“Odol” dari Surga

Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia lewati dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu kehabisan odol dipenjara. Malam itu adalah malam terakhir bagi odol diatas sikat giginya. Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk esok hari. Dan ini jelas-jelas sangat menyebalkan. Istri yang telat berkunjung, anak-anak yang melupakannya dan diabaikan oleh para sahabat, muncul menjadi kambing hitam yang sangat menjengkelkan. Sekonyong-konyong lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih dari itu : tidak berharga ! Tertutup bayangan hitam yang kian membesar dan menelan dirinya itu, tiba-tiba

Continue reading

Hadiah dari Pak Guru

Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Eh, buatku memang hari pertama, tapi buat orang lain tentu saja hari kedua. Kemarin aku nggak masuk sih. Soalnya kukira hari pertama masuk nggak langsung belajar. Maklumlah habis liburan semester. Biasanya, siswa yang menghabiskan liburan di luar kota -seperti aku- suka menambah masa liburan satu atau dua hari. Biasanya pula, memang hari pertama nggak langsung belajar. Paling-paling saling bersalaman sama teman, kangen-kangenan, tukar cerita, dan keliling sekolah yang katanya baru direhab.

Kulihat rapor hasil semester pertama. Aku jadi sebel melihat hasilnya. Aku sudah berusaha belajar jujur, eh, hasilnya jeblok! Lain dengan si Amel. Gadis pakar dalam bidang contek-mencontek itu mendapatkan rangking ketiga di kelas. Padahal, teman-teman sekelas tahu betul ‘kepakaran’ anak satu ini. Continue reading

Beasiswa

“Jadi, kau akan berhenti di sini?!”

Aku tersentak mendengar teriakan Uli, padahal jarak aku dan Uli tak jauh, ini kebiasaan Uli jika sedang marah. Aku lempar sembarang buku motifasi yang tengah kubaca demi mendengar teriakan Uli selanjutnya.

“Ara, mana mungkin kau menyerah begitu saja?! Aku tak percaya dengan lelucon ini! Mana ara yang dulu? Yang selalu bersemangat!”

”Sudah mati Ul, inilah aku yang sebenarnya, tak punya harapan sepotong pun!” jawabku sekenanya tanpa memperhatikan wajah Uli yang memerah. Continue reading

Air Mata yang Tak Terbeli

Kemarin lalu kau terlahir dalam lemah

Tanpa sedikit pun kuasa

Hanya bekal cinta dan airmata yang kau bawa

Sebagai senjata untuk melawan kekejaman dunia

Kini kau sudah harus belajar menari

Setelah semalam kau terjatuh dalam kehampaan jiwa

Lelahmu adalah bagian dari nafasmu

Tertinggal di masa remajamu

Dan perlahan kau coba mengguratkan sebuah syair

Untuk melukiskan wajah ceriamu pada sang bintang

Dengan di tuntun oleh jemari mungil itu

Meski luka dan perih yang kau rasa

Tapi tetap kau mencoba untuk bisa tersenyum dalam kelemahanmu

Dan kini bait bait kehidupan itu terputus

Kau pun menangis

Lalu kau tawarkan kepadaku untaian kata yang hilang itu

Agar dapat ku tiupkan satu nafas kehidupan

Agar dapat ku janjikan satu pengharapan

Meski aku sendiri adalah manusia malam

Yang masih meraba raba dalam kehidupan

Yang tak pernah merasakan istirahat malam

Tapi di dalam hati ini hanya bisa ku haturkan sebuah do`a untukmu

Agar tuhan memberikan sekuntum bunga rindu pada kasih kecilku ini

Dan di relung hatimu tersimpan pesona bidadari bidadari yang bernyanyi

Tempat bersandar segala penatmu

Untuk kau petik dawai dawai bahagia

Dan agar kau tahu tentang arti airmata yang sesungguhnya

Tersenyumlah peri kecilku

Karena hari tak selamanya gelap

Esok masih ada matahari pagi yang akan menghangati

Setelah malam ini kau diselimuti oleh dingin

Genggam erat hati ini

Jangan pernah ragu untuk melangkahkan kaki

Meski antara kau dan mimpi masih tersenyum ragu

Apakah kau akan menyatu dalam satu kerinduan di hari itu

 

Wahai tuhan, ajarilah kami untuk merangkai mimpi mimpi

Mimpi mimpi yang tak kan pernah terbeli oleh benci

Mimpi mimpi yang akan menebarkan aroma wangi

Mimpi mimpi yang membangunkan jiwa jiwa yang telah lama mati

Mimpi mimpi yang mengguncangkan istana syurgawi

Dekaplah kami jika takut menghampiri

Karena kami hanyalah hambamu yang sering lupa diri

Tapi kami yakin, jika benar itu ada

Suatu saat mata kami pasti bisa memahami

Dan biarlah kini dia sejenak beristirahat

Terbuai oleh kehangatan inspirasi simphoni nurani

Amiiin!

 

 

Syair ini kupersembahkan untuk jiwa jiwa yang terluka oleh realita

Untuk airmata yang mengalir karena kecewa

Dan akan menjadi kitab suci bagi mereka yang telah kehilangan asa

Juga bagi dia yang kini belajar menari

Di dunia mimpi yang pasti

Salam merdu keindahanmu kurindu

 

By. Anshorihoja

Sumber: http://achmadiikhwan.blogspot.com/

Sore Itu Aku Tahu

 

Kecut…begitulah yang kurasakan. Sejenak aku menerawang, membiarkan pikiran menelusuri sisi-sisi kehidupanku yang telah lalu. Tak sadar getaran halus meresap dalam dada ini, aku merasa sedih sekali. Mata pun sejenak berkaca-kaca. “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba-Mu selama ini!”

Enam tahun yang lalu, tepatnya saat masih SMU dulu, masa hidupku penuh dengan “luka”. Luka hati dan derita batin. Aku terjebak dalam buaian prestasi dan pacaran.

Bahkan ajaran agama pun aku tak tahu sehingga shalat yang merupakan kewajibanku kutinggalkan begitu saja tanpa sedikit pun perasaan berdosa. Shalat hanya kulakukan bila diri ini malu dilihat oleh teman-teman atau ada acara ritual keagamaan yang ‘memaksaku’ melakukannya, seperti tarawih dan shalat ‘id. Continue reading

Terlambat

 

          Fajar telah menyingsing, sinar matahari pun sudah cukup tinggi seraya membangunkan tubuh yang telah terlelap. Aku coba membuka mata, bangun dan duduk sebentar  di atas ranjang kayu, niatku untuk menghilangkan rasa pusing yang seakan ingin membuat aku tertidur kembali. Perlahan tapi pasti aku malawan rasa kantuk dan malas yang melandaku. Penat raga ini, melakukan langkah yang hampir sama di setiap pagi, bangun dan berangkat menuju tempat yang selalu menuntutku untuk menjadi anak bangsa yang setia diri, bangsa dan negara. Entah sampai kapan teori ini selalu merongrong dikepalaku.

*** Continue reading

Analisis Unsur Intrinsik Novel di Bawah Lindungan Ka’bah Karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)

A. Sekilas Tentang Pengarang

Sastrawan dan ulama terkenal serta berpengaruh di Asia tenggara.Ia adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih di kenal dengan sebutan HAMKA.Ia dilahirkan di Maninjau, Sumatra Barat, 16 Februari 1908, meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Berpendidikan SD (sampai kelas dua), Pendidikan Agama dan Bahasa Arab di Sumatra Thawalib, Parabek (Bukittinggi). Seperti kebanyakan orang Minangkabau, HAMKA dalam usia belia (16 tahun) pergi merantau ke Jawa. Di sana ia menimba ilmu dari H.O.S. Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, R.M. Soerjopranoto, K.H. Fakhruddin, dan A.R. Sutan Mansur. Continue reading