Hadiah dari Pak Guru

Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Eh, buatku memang hari pertama, tapi buat orang lain tentu saja hari kedua. Kemarin aku nggak masuk sih. Soalnya kukira hari pertama masuk nggak langsung belajar. Maklumlah habis liburan semester. Biasanya, siswa yang menghabiskan liburan di luar kota -seperti aku- suka menambah masa liburan satu atau dua hari. Biasanya pula, memang hari pertama nggak langsung belajar. Paling-paling saling bersalaman sama teman, kangen-kangenan, tukar cerita, dan keliling sekolah yang katanya baru direhab.

Kulihat rapor hasil semester pertama. Aku jadi sebel melihat hasilnya. Aku sudah berusaha belajar jujur, eh, hasilnya jeblok! Lain dengan si Amel. Gadis pakar dalam bidang contek-mencontek itu mendapatkan rangking ketiga di kelas. Padahal, teman-teman sekelas tahu betul ‘kepakaran’ anak satu ini.

Kini aku memasuki semester kedua. Niatku belajar semester ini bener, nggak ya? Sekarang ini benar-salah sudah agak samar-samar, tak terkecuali di sekolahku yang kata Bapak Kepala Sekolah berfungsi untuk mencetak manusia-manusia yang bertakwa. Tapi? Kenapa orang semacam Amel bisa lolos sensor?! Kalau Amel bisa menjadi bintang kelas dengan menyontek, mengapa aku tidak?

* * *

Tiba juga aku di sekolah. Belum sempat kaki melangkah menuju kerumunan depan kelas, sekilas aku melihat sesosok gadis berdiri di depan pintu kelas. Kaget banget melihatnya. Amel, sainganku, pake jilbab? Nggak salah lihat? Lagian, tumben dia nggak ikut berkerumun.

“Assalamu’alaikum,” salamnya kepadaku.

“Wa’alaikum salam,” jawabku gugup. Sungguh, aku nggak percaya melihat semua ini.

“Apa kabarmu?” tanyanya.

“Baik, kamu?” jawabku mencoba menghilangkan kegugupan.

“Alhamdulillah,” jawabnya pendek. Enggak biasanya dia menjawab seperti itu.

“Sejak kapan pake jilbab?” tanyaku.

“Sejak hidayah Allah mengusik nuraniku yang paling dalam,”

Aku mencoba mencari kejujuran dalam dirinya. Tapi entah gimana, aku jadi ingat tekadku saat berangkat sekolah tadi. Kenapa aku jadi benci bila ingat perbuatan Amel pada semester lalu? Terbayang di benakku bagaimana lihainya dirinya membuka-buka catatan kecil saat ulangan.

Huh! Benci aku! Lalu, kutinggalkan dia, langsung saja aku bergabung dengan teman-teman yang lain. Hendra, ketua kelas kami yang jenius berjalan menuju kami. Kulihat dia baru saja keluar dari kantor ruang guru. Pasti ada kabar baru. Benar dugaanku. Kami akan mendapat guru Kimia baru, karena guru Kimia yang lama dipindahtugaskan ke Jakarta. Kira-kira siapa dia ya? Bapak atau ibu?

* * *

“Nama saya Dzulkifli, tapi kalian cukup memanggil Pak Zul saja,”

Nama yang tidak biasa. Orangnya tidak begitu tampan. Usianya mungkin sekitar 35 tahunan.

“Anak-anak, kalau dulu Pak Lukman punya peraturan tertentu dalam pelaksanaan KBM, begitu juga Bapak di sini. Dan karena sekarang kalian belajar kimia dengan Bapak, maka sudah tentu kalian harus mematuhi segala peraturan yang Bapak tetapkan. Bagaimana? Setuju semua?”  Pak Zul memandang kami satu per satu.

“Pertama dan yang utama, kalian harus belajar dengan jujur. Bapak tidak ingin ada kecurangan-kecurangan. Terutama pada saat ulangan.”

Eh, apaan tuh yang dikatakan Pak Zul? Panjang dan banyak banget. Yang kuingat salah satunya adalah harus jujur. Oh, ya? Semester 1 lalu buktinya, hasil raporku mengecewakan dengan belajar jujur. Niatku sudah bulat. Aku harus sukses belajar dengan cara seperti Amel. Aku akan sukses!

* * *

Sudah satu minggu kami belajar di semester ini. Pasti akan ada ulangan harian.

“Tidak ada buku apa pun di atas meja, kecuali kertas ulangan! Ingat, kalian harus jujur! Bapak berjanji akan memberikan hadiah bila di antara kalian ada yang mendapatkan nilai sepuluh. Tapi bila nilai sepuluh itu diperoleh dengan cara yang tidak jujur, hadiahnya tidak jadi Bapak berikan. Karenanya, jangan coba-coba berbuat curang. Bapak memang tidak bisa melihat seluruh perbuatan kalian. Tapi Allah Maha Melihat. Dia Maha Melihat apa-apa yang kalian kerjakan dan kalian sembunyikan. Mengerti?” kata Pak Zul.

Ah! Bertele-tele amat sih Pak Zul ini! Tinggal bagikan soal apa susahnya. Aku yakin aku bisa mengerjakan soal-soal tersebut. Semua poin penting yang ada dalam bab satu ini sudah kutulis secermat mungkin dalam catatan kecilku.

Kubaca soal ulanganku satu per satu. Sepuluh soal! Essay, wah! Luar biasa! Semua kutulis di kertas kecilku keluar dalam ulangan kimia pertamaku. Alamat dapat hadian, nih! Kulihat kiri dan kanan. Semuanya sedang khusuk. Mataku beralih ke meja Pak Zul. Aman. Catatan kecil yang sejak tadi kugenggam dalam bolpoin hitamku terus kusimpan di balik kertas ulanganku. Aku tersenyum sambil membaca soal ulangan. Nomor satu? Beres. Nomor dua? Nggak masalah. Nomor tiga? Eh, gampang. Nomor empat, nomor lima, sip deh! Beres sudah sepuluh soal. Meski agak deg-degan ternyata rampung juga misi pertamaku ini. Kukira tak seorang pun tahu acara nyontekku sukses.

Tapi, benarkah tak ada yang tahu? Kenapa tiba-tiba hatiku merasa takut? Ada perasaan aneh yang menyelimuti hatiku.

“Bapak memang tidak bisa melihat seluruh perbuatan kalian. Tapi, Allah, Dia Maha Mengetahui apa saja yang kalian kerjakan dan yang kalian sembunyikan.” Kata-kata Pak Zul terngiang di telinga dan hatiku. Pelan, kulirik meja sebelah kananku. Amel sedang menekuni kertas ulangannya. Terang sekali, tak tampak kegelisahan seperti yang dulu menjadi ciri khasnya saat ulangan.

Jauh di lubuk hatiku, sebenarnya aku tahu bahwa Amel telah berubah. Oh, maafkan aku, Amel. Aku sadar dan ingin tobat. Apa sih yang membuatnya berubah seratus delapan puluh derajat hinggi ia begitu baik? Lalu, kenapa hatiku malah dijejali rencana busuk dan benci? Padahal dulu tak pernah terlintas niat curang dalam belajar. Ampuni hamba-Mu ini, ya Allah.

* * *

Tiba waktunya, Pak Zul mengumumkan siapa yang dapat nilai sepuluh waktu ulangan kemarin dan berarti siapa yang dapat bingkisan. Semua isi kelas sunyi. Tak ada satu pun siswa yang ngobrol.

Ternyata, aku yang dapat nilai sepuluh! Hanya aku seorang!

“Selamat, Rangga, semoga kamu menjadi siswa yang jujur,” Pak Zul menjabat tanganku sambil menyerahkan bingkisan mungil terbungkus kertas kado.

Jadi siswa yang jujur? Pantaskah hadiah ini jatuh ke tanganku? Aku harus mengembalikan bingkisan ini kepada Pak Zul! Menurutku, Pak Zul lebih pantas mengajar mata pelajaran agama. Habis, beliau nggak pernah lupa menyisipkan pesan keagamaan setiap kali beliau mengajar di kelas. Selalu saja ada ayat Al Qur’an yang beliau kutip ketika menerangkan pelajaran. Beliau selalu menyentuh nurani kami dengan kata-kata yang berpadu dengan nilai-nilai Islam. Kini, aku nggak heran kenapa Amel yang kukenal bisa berubah secepat itu sejak awal hijrahnya. Mungkin apa yang kurasakan saat ini sama dengan apa yang Amel rasakan di awal hijrahnya.

* * *

Pupus sudah niatku untuk sukses dengan cara mencontek. Mau tahu apa yang membuatku berubah secepat itu? Di dalam bingkisan kecil dari Pak Zul, terdapat secarik kertas bertuliskan, “Anakku, Bapak ucapkan selamat atas keberhasilanmu. Pertahankan prestasi yang telah engkau raih. Tetaplah menuntut ilmu untuk mencari keridhaan-Nya. Niatkan dalam hati dengan ilmu itu kau akan semakin takwa kepada Allah. Menuntut ilmu adalah ibadah. Tanamkan itu dalam hatimu. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak tahu adalah sedekah, maka “Sesungguhnya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu beberapa derajat.” (Al-Mujadalah : 11).”

Gimana? Siapa yang nggak tersentuh membaca tulisan Pak Zul di atas? Untaian kata yang terselip dalam bingkisan mungil itu bagaikan pelita yang menyinari jalanku menuju keridhaan-Nya.

Kisah ini ditulis oleh :  Rangga D. Nuryadi


PERCIK RENUNGAN

Kerasnya persaingan untuk meraih sesuatu dalam hidup kadang membuat manusia lupa akan Allah subhanahu wata’ala. Betapa banyak manusia yang meraih dunia, memenangkan persaingan, dengan jalan yang tidak halal.

Masalah di bangku sekolah bagi kita, para remaja, juga melahirkan persaingan-persaingan. Untuk menang mendapatkan nilai yang tinggi atau lulus ujian banyak jalan ditempuh. Mereka yang lupa akan Allah akan mencari jalan yang tak halal.

Mencontek merupakan ketidakjujuran dan tanda kurangnya percaya diri. Ujian, tes, ulangan, atau evaluasi apa pun adalah untuk mengetahui sampai seberapa hasil belajar kita. Jika mencontek dilakukan, kita malah tidak bisa mengukur kemampuan diri kita yang sebenarnya.

Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa saja yang dilakukan oleh hamba-Nya. Mencontek dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat oleh pengawas atau siswa lain, namun dengan cara yang bagaimana pun, praktek tidak jujur ini senantiasa dilihat oleh Allah subhanahu wata’ala. Tentu, untuk masalah kecurangan seperti ini, Allah pun mempunyai hukuman yang setimpal bagi pelakunya.

Sikap jujur adalah salah satu akhlak mulia yang dituntut dari seorang muslim. Sikap jujur harus kita laksanakan, bukan karena hal itu untuk mengukur bagaimana kemampuan kita sebenarnya, namun sikap jujur kita tegakkan dengan niat ikhlas karena Allah.


(Dikutip dari Buku Berjudul “Seindah Cinta Ketika Berlabuh” Kumpulan Kisah-Kisah Nyata Unggulan Majalah Elfata).

Sumber: http://ahmadwijang.wordpress.com/2010/06/10/hadiah-dari-pak-guru/#more-29

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s