Sore Itu Aku Tahu

 

Kecut…begitulah yang kurasakan. Sejenak aku menerawang, membiarkan pikiran menelusuri sisi-sisi kehidupanku yang telah lalu. Tak sadar getaran halus meresap dalam dada ini, aku merasa sedih sekali. Mata pun sejenak berkaca-kaca. “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba-Mu selama ini!”

Enam tahun yang lalu, tepatnya saat masih SMU dulu, masa hidupku penuh dengan “luka”. Luka hati dan derita batin. Aku terjebak dalam buaian prestasi dan pacaran.

Bahkan ajaran agama pun aku tak tahu sehingga shalat yang merupakan kewajibanku kutinggalkan begitu saja tanpa sedikit pun perasaan berdosa. Shalat hanya kulakukan bila diri ini malu dilihat oleh teman-teman atau ada acara ritual keagamaan yang ‘memaksaku’ melakukannya, seperti tarawih dan shalat ‘id.

Anak Rantauan

Aku seorang anak yang dating dari sebuah desa terasing di pedalaman hutan kota X. Desa yang belum terjamah oleh pancaran cahaya listrik. PLN masih enggan untuk menjamahkan kabelnya di sana, karena pertimbangan bisnis yang dirasa tak menguntungkan ditambah geografis tempat tinggalku yang memang sulit dijangkau. Baru setelah kelas 2 SMU, listrik bisa merambah desaku.

Dari desa inilah aku mengadu nasib merantau ke kota untuk sekedar belajar, menambah wawasan keilmuan, agar nanti jadi orang hebat dan berpangkat. “Hati-hati di sana, ya, Nak, dan jangan lupa rajin belajar.” Begitulah pesan bapak dan ibu saat pertama melepas kepergianku.

Semangat Tinggi

Melihat listrik, juga kehidupan kota yang beda jauh dengan desa, aku seakan jadi ‘gila’. Tepatnyua, gila belajar. Tiap hari adanya cuma belajar dan belajat, bangun tidur, pulang sekolah, dan sehabis Isya’ sampai tengah malam sehingga sebagian temanku menjulukiku ‘si kutu buku’. Tak heran kalau kemudian aku berprestasi, langganan juara 1 selama 3 tahun berturut-turut. Walau awalnya minder karena orang desa, namun setelah itu aku bangga dengan diri sendiri dan tak jarang malah berlagak sombong. Tersenyum aku mengingat itu semua.

Semakin hari, semakin ‘pintar’ saja diriku sampai pernah menjadi duta kabupaten untuk ikut lomba olimpiade matematika tingkat provinsi. Itulah yang kemudian menjadikanku lupa akan perkara agama dan akhirat sehingga saat itu yang kurasa dan kuingat tak ada lain kecuali dunia dan dunia serta cita-cita untuk menjadi orang ‘hebat’.

Kenal Pacaran

Bukan hanya prestasi yang kusandang, pacaran layaknya muda-mudi sekarang pun kulakukan. Aku berpacaran dengan gadis kampung tempat aku kost. Saat itu kuangap pacaran wajar-wajar aja.

Cinta memang menenggelamkan semua. Aku larut dalam buaian pacaran, jalan bareng, berboncengan, apel malam minggu. Semua itu jadi satu hal yang biasa, malah jadi kegiatan rutin sepulang sekolah atau selepasbelajar. Lebih larut lagi ketika menjelang akhir kelulusanku. Menjelang lulus aku terbuai melakukan beragam maksiat termasuk zina. Namun, aku tak tahu. Kala itu yang kutahu praktek begituan adalah sesuatu yang umum di kalangan pemuda. Prinsipku, asal tak hamil saja.

Aku Diingatkan

Allah subhanahu wata’ala masih saying dengan diriku, ketika aku terbuai dengan prestasi juga maksiat pacaran aku diingatkan oleh-Nya. Entah kenapa menjelang EBTANAS (sebutan zaman dulu untuk ujian akhir nasional –ed), pikiranku error, otakku yang biasanya encer jadi sulit diajak kompromi apalagi untuk menghapal rumus-rumus yang rumit. Bencana menimpaku, saat pengumuman hasil ujian aku masuk urutan ke-35 rangking sekolah, bukan rangking 1 yang kusandang selama ini. Aku down, lemas, bahkan stress. Orang tuaku marah dan kecewa. Orang-orang menginterogasiku; guru, teman, sampai kepala sekolah. Mereka tak percaya dengan apa yang terjadi pada prestasiku. Aku tertekan, aku diidam-idamkan jadi juara sekolah bahkan sang juara tingkat kabupaten, dan aku optimis itu. Namun, sekali lagi Allah subhanahu wata’ala berkehendak lain. Ujian Fisika yang aku yakin bisa mendapat nilai 8 atau 9 ternyata pada DANEM cuma bernilai 3. Inilah buah kesombongan dak kemaksiatanku. Hatiku tertutup, otakku penuh dengan rayuan setan, sehingga pelajaran yang kuhapal selama ini hilang entah kemana.

Tetap Saja Ngotot

Sejak lulus diriku dan pacarku berpisah tempat, beda kota. Aku di kota Z, dia di kota W. Walaupun begitu, jarak tak menyurutkanku untuk setia mengunjunginya minimal sebulan sekali. Uang kiriman ortu sebagian kugunakan untuk apel dan bersenang-senang.

Walaupun sudah diingatkan, tetap saja aku tak segera sadar, aku malah terus asyik dengan maksiatku. Malah kini tambah lagi, aku terjebak dalam kegiatan Joki UMPTN (sebutan seleksi mahasiswa baru pada zaman dulu –ed) yang itu jelas kejahatan. Na’udzubillah min dzalik. Nasehat orang tua agar jangan ikut-ikutan tak kugubris lagi, aku ingin dapat uang instant namun ternyata salah jalan. Inilah kedurhakaanku lagi yang mengecewakan mereka.

Satu tahun pertama kuliah aku jalani, di mata orang tuaku aku ini anak alim, penurut sama mereka, dan bisa menjunjung martabatnya. Namun aslinya…menyedihkan, aku telah banyak berbohong pada keduanya.

Sekali Lagi Diingatkan

Suatu ketika, saat aku apel malam minggu, aku kemalaman di kota tempat pacarku. Aku tak bisa pulang, bis menuju kotaku sudah habis. Aku termenung di terminal. Setelah berpikir beberapa saat kuputuskan tidur di masjid terminal. Aku tak tahu diriku diincar oleh orang jahat.

Aku tidur di teras masjid. Karena capek, diriku langsung terlelap. Menjelang padi aku terbangun dan kudapai dompetku plus isinya telah hilang. Aku paniksekali.. Saat itu, sepeser pun tak ada uang di kantongku, aku bingung. Tas kugeledah dan alhamdulillah kutemukan satu koin uang seratus rupiah. Cepat kutelepon rumah pacarku dan kukabarkan keadaanku. Kami sama-sama panik. Aku ingat di dompet ada ATM plus no PIN-nya, padahal di dalamnya ada saldo 350 ribu rupiah.

Malam minggu bank tutup, aku secepatnya barusaha memblokir ATM-ku namun qadarullah tak bisa. Lemaslah diriku, terpaksa aku harus mengikhlaskan uangku untuk dicuri. Padahal aku tahu itu adalah uang cadanganku selama sebulan ini. Aku tak tahu lagi harus bilang apa sama orang tua dan harus bagaimana mempertanggungjawabkannya. Haruskah aku terus berbohong, sementara kebohonganku selama ini sudah tak terhitung? Merasa tak ada jalan lain, ‘terpaksa’ kupilih jalan ini.

Aku Sadar Aku Bergetar

Setelah kejadian itu, aku mulai tersadar. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa takut akan kematian, akan musibah yang semakin besar menimpaku. Sampai suatu hari Allah subhanahu wata’ala membukakan jalan bagiku. ENtah kenapa, aku tiba-tiba berkehendak salat di masjid, padahal selama ini hampir tak pernah aku menjamah masjid..

Kuberanikan masuk masjid dengan bermodal dandanan funky, baju ‘agak ketat’, dan celana jeans. Masih kuingat saat itu sholat ashar. Begitu dikumandangkan takbiratul ikram, saat itu ketenangan kurasakan merasuk kalbuku yang selama ini gersang.

Sehabis salat, sejenak aku terdiam, berdzikir. Satu per satu orang pergi meninggalkan masjid namun aku masih terdiam sampai semua orang pulang. Seakan kakiku ini ada yang menuntun, aku berdiri, langkahku menuju satu tumpukan Al-Qur’an dan beberapa buku agama di pojok masjid. Sorot mataku mengamati satu buku yang bagiku sangat menarik namun menakutkan. Masih kuingat jelas buku itu, Pacaran dalam Kaca Mata Islam karangan Abdurrahman Al-Mukaffi. Aku memegangnya, mebolak-balik tapi belum berani membukanya. Pasti buku ini mnelarang pacaran, pikirku.

Sekali lagi Allah subhanahu wata’ala Maha Kuasa, kebimbanganku justru menguatkan penasaranku. Akhirnya kubuka buku itu. Sejenak aku baca pembukaannya, dan ternyata bagus. Aku jadi ingin terus membacanya. Kalimat demi kalimat kubaca, sampai tanpa sadar tubuhku bergetar. Aku mendadak takut sekali, aku terhenyak. Ternyata pacaran yang selama ini kulakukan telah menumpuk dosa. Aku diancam oleh Allah subhanahu wata’ala dengan siksaan neraka. Aku terduduk dan mataku berkaca-kaca. “Ya Allah subhanahu wata’ala, ampuni hamba-Mu ini.” Tak sadar kulantunkan kalimat itu dari bibirku. Aku baca buku tersebut sampai selesai.

Aku bergegas pulang, untuk mandi dan menunggu maghrib. Aku merasakan sesuatu yang lain, kini seakan aku menemukan jati diriku, siapa aku dan untuk apa aku diciptakan. Setelah itu aku mulai rutin salat, dan berusaha untuk senantiasa berjamaah.

Setelah Itu

Hari-hari berikutnya kulewati dengan bahagia, sedikit demi sedikit aku mengenal orang masjid. Kuikuti kajian-kajian Islam di masjid tersebut. Kini aku juga jadi giat ke toko buku Islam, mencari referensi untuk menambah pengetahuan agama. Allah subhanahu wata’ala telah menyadarkanku betapa agama ini indah, betapa tenang ketika berjumpa dengan diri-Nya.

Dulu aku begitu bebas mengumbar pandangan dan pergaulan, mulai tahun kedua ini aku berubah. Kemarin pergaulanku masih dengan anak-anak funky kini jadi anak ngaji. Kuubah total semuanya, dari mulai tampilan, gaya bicara, sampai gaya hidupku. Aku lebih suka ikut kajian daripada jalan-jalan, aku lebih suka besilaturahmi dari pada diam menyendiri. Teman-temanku yang dulu sedikit demi sedikit menjauhiku dan aku sendiri pun mengambil jarak dengan mereka, terutama dengan yang wanita.

Allah Kabulkan Doaku

Setelah berjalan beberapa waktu, ada sesuatu yang masing mengganjalku. Walau aku sudah aktif ngaji dan paham beberapa hukum agama, namun untuk meninggalkan pacaran belum bisa. Aku tak tega memutuskannya. Setiap malam, saat salat tahajud aku selalu berdo’a kepada Allah subhanahu wata’ala agar diberi jalan keluar yang tak menyakitinya, dan terbaik buat kami berdua. Dengan perubahanku ini, komunikasi antar kami pun jadi sangat berkurang. Aku sudah tak berhasrat lagi dengannya. Sampai suatu hari…Allah subhanahu wata’ala mengabulkan do’aku selama ini.

Suatu hari aku berkehendak bertandang ke tempat kostku dulu waktu SMU, dan berharap bisa bertemu dengan pacarku. Namun, belum sempat aku bertandang, seorang teman dekatnya mengabarkanku kalau dia sudah dipinang oleh teman kerjanya. Alhamdulillah…Allah telah memberi jalan keluar yang sangat baik, sejenak aku tersenyum. “Terima kasih ya Allah subhanahu wata’ala,” aku bergumam.

Setelah itu kujalani hari-hari menjadi ‘manusia baru’, lebih mendekatkan diri pada Allah subhanahu wata’ala dan memohon ampun atas dosa-dosaku selama ini. Aku juga selalu berdoa, agar orang tuaku selalu diberi kebaikan oleh Allah subhanahu wata’ala dan aku sudah bertekad tak ingin bohong lagi, insya Allah.

Ibu dan bapak, maafin anakmu. For my wife, baik-baiklah mengurus abi. Salam untuk seluruh teman-temanku yang ada di Luqman Post dan Alkahfy Jogja, maafkan semua kesalahanku.

Kisah ini ditulis oleh Abu Zalfa


 

PERCIK RENUNGAN

 

Kehidupan kota yang gemerlap memang menggiurkan, terutama bagi mereka yang berorientasi kepada dunia. Terlebih lagi di zaman seperti sekarang ini. Gemerlap kota yang mewakili dunia masih terbalut dengan berbagai kemaksiatan yang ada. Mereka yang belum pernah ke kota memerlukan iman yang kuat saat memasuki kehidupan kota. Betapa banyak muda-mudi yang sebelumnya menjadi anak baik setelah masuk ke kota menjadi anak Bengal. Betapa banyak hari ini orang tua yang masih memperhatikan agama khawatir melepas anaknya pergi ke kota besar.

 

Bukan berarti, siapa saja yang ke kota pasti akan tersesat. Alhamdulillah, masih ada muda-mudi yang memegang teguh agamanya dan aktif dalam jalan Islam. Bahkan, ada saja remaja yang di desa tak kenal agama, di kota besarlah malah ia mengenal agama. Karena itu, remaja yang ingin menimba ilmu di kota harus senantiasa menguatkan iman, segera memilih lingkungan dan teman bergaul yang baik dan tak lupa memohon kepada Allah agar senantiasa dilindungi.

 

Mereka yang dikaruniai oleh Allah berupa kemampuan-kemampuan yang lebih dari rata-rata orang hendaknya menyadari bahwa semua kemampuan itu datangnya hanyalah dari Allah. Tidak perlu menyombongkan diri karena mempunyai kemampuan lebih. Toh, jika Allah menghendaki, kemampuan itu bisa hilang begitu saja, sebagamana kisah Abu Zalfa di atas yang tiba-tiba saja ‘kehilangan’ kecerdasannya saat menjelang ujian akhir nasional, padahal biasanya dia adalah anak yang pandai. Perlu diingat juga bahwa barang siapa yang mempunyai kesombongan sedikit pun tidak akan memasuki jannah. Ini juga termasuk dalam masalah mendapat hidayah. Kemampuan meniti jalan kebenaran pun datangnya hanya dari Allah. Hati-hati dengan datangnya rasa ‘ujub, merasa hebat dan wah ketika sudah mendapatkan hidayah.

 

Kisah di atas juga merupakan bukti bahwa dosa-dosa akan melahirkan kesulitan-kesulitan; sebagian dosa-dosa membuahkan hukuman yang disegerakan di dunia. Di antara hikmahnya adalah agar manusia yang berbuat dosa itu mengambil pelajaran. Segala puji bagi Allah, dengan kesulitan-kesulitan tersebut, Abu Zalfa tersadar dari kemaksiatan-kemaksiatan yang ia lakukan dan menyambut datangnya hidayah hingga berusaha menjadi muslim yang baik.

(Dikutip dari buku berjudul “Seindah Cinta Ketika Berlabuh” Kumpulan Kisah Nyata Unggulan Majalah Elfata)

Sumber: http://ahmadwijang.wordpress.com/2010/06/22/sore-itu-aku-tahu/#more-73

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s