Terlambat

 

          Fajar telah menyingsing, sinar matahari pun sudah cukup tinggi seraya membangunkan tubuh yang telah terlelap. Aku coba membuka mata, bangun dan duduk sebentar  di atas ranjang kayu, niatku untuk menghilangkan rasa pusing yang seakan ingin membuat aku tertidur kembali. Perlahan tapi pasti aku malawan rasa kantuk dan malas yang melandaku. Penat raga ini, melakukan langkah yang hampir sama di setiap pagi, bangun dan berangkat menuju tempat yang selalu menuntutku untuk menjadi anak bangsa yang setia diri, bangsa dan negara. Entah sampai kapan teori ini selalu merongrong dikepalaku.

***

          Jarum jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 06.00 WIB. “Wah……aku kesiangan”. Aku bergegas beranjak dari tempat tidurku dan segera berlari menuju  ke kamar mandi. Secepat mungkin aku mandi agar tidak terlambat sampai sekolah. 10 menit telah berlalu, aku pun selesai mandi dan segera memakai seragam  putih abu-abu ku. Dari dalam kamarku, aku dengar teriakan keras yang memecah gendang telingaku, bahkan kamarku seakan hancur gemuruh oleh suara itu, cicak yang tenang bahkan jatuh oleh pegangannya, sudah bisa ditebak suara itu sudah tak asing lagi ditelingaku, ya siapa lagi kalau bukan ibuku yang sedang memanggil…….

           “Farhan…..sudah siang…..apa kamu tidak berangkat ke sekolah…..!! lihat jam dikamarmu, sudah jam berapa sekarang…..!!”.

Sontak aku menjawab. ” Iya bu….Siap”.

          Aku segera bergegas meninggalkan rumah, bergaya seperti tentara yang akan pergi ke medan perang aku menyusuri tepi jalan dengan langkah lebar dan cepat seolah-olah musuh besarku yang begitu banyak jumlahnya sedang memandangku dan dengan sigap menyerangku, yaah musuh besarku tentulah waktu. Naas, nasibku hari ini tak seberuntung hari-hari yang lain, Kendaraan yang biasa aku naiki setiap hari tak ada satu pun yang lewat. 15 menit sudah aku menunggu, arlojiku tepat berada di angka 06.30. Aku putus asa, ingin rasanya aku kembali ke rumah dan tidak bersekolah hari ini. Tapi tak mungkin aku pulang, alasan apa yang harus aku katakan pada ibu. Aku paksakan untuk terus sabar menunggu.

           Waktu terus berjalan, dari kejauhan aku lihat kendaraan yang semakin mendekatiku, bukan kepalang senang hati ini, rasanya beban hati menunggu telah luntur. “Wah, itu kendaraan yang aku tunggu”, tanpa ragu dan tak mau melewatkan kesempatan ini aku pun melambaikan tangan untuk menghentikan laju kendaraan itu. Segera aku naik. Tanpa aku duga di dalam kendaraan aku bertemu Wahyu, temanku yang juga mengalami nasib sama sepertiku. Kesiangan yang tidak pernah aku harapkan.

           “lho…. kamu terlambat juga Yu?”.

“Iya, aku bangun kesiangan, semalam aku begadang sampai larut malam”.

“Ternyata kita mengalami nasib yang sama ya Yu”.

          Perjalanan yang harus aku tempuh untuk sampai ke sekolah menempuh waktu 30 menit. Roda kendaraan terus berputar melawan arah jarum jam untuk membawaku sampai ke tujuan. Pukul 07.10 tepat, aku dan Wahyu telah sampai di depan pintu gerbang sekolah, padahal sekolah masuk tepat pada pukul 07.00.

             “Sial …! kita terlambat, pintu gerbang sudah di tutup!” Sontak suara yang dikeluarkan oleh temanku.

          Di depan pintu gerbang sudah menunggu  pak Tarsun, seorang penjaga gerbang sekolah. Dengan mata yang nyaris tidak berkedip dan kumis tebal yang seakan tak bisa membiarkan bibirnya untuk tersenyum, membuat semua orang takut kepadanya. Detak jantungku pun berdebar sangat kencang, hanya wajah takut dan kepala tertunduk lesu yang bisa aku berikan di depan pak Tarsun. Bagaimana tidak, aku seolah-olah harus berperang lagi, satu masalah sudah beres, tapi aku harus menghadapi penjaga gerbang sekolah untuk bisa masuk ke sekolah. Pak Tarsun bertanya tanpa melepaskan pandangan matanya yang tertuju kepada kami.

             “Kenapa kalian terlambat?!”. Kami pun terdiam melihat wajah galaknya itu. “Alasan apa yang membuat kalian terlambat?!”.

Dengan gemetar kami menjawab.

“Kami kesiangan pak..”..keringat dinginku muncul, mengalir deras membanjiri seluruh tubuhku, gemetar menghampiri diriku, tak kuasa ku memandang pak Tarsum yang melotot dan memamerkan wajah seram berkumis tebal.

“Tulis nama kalian di buku hadir dan ambil surat izin masuk! Cepat!”.

“Baik pak”.

          Tanpa adanya perlawanan sedikitpun kami pun mematuhi perintah dari pak Tarsum, akhirnya aku dan wahyu dapat masuk ke dalam sekolah. Pak Warno sudah berada di dalam kelas. Pelajaran matematika pun sudah berlangsung selama 25 menit. Ku ketuk pintu kelasku aebanyak 3x. Tok.. Tok.. Tok..

             “Wah….pagi benar kalian berangkat…” Sindir pak warno.

Sontak membuat seisi ruang kelasku menjadi ramai, semua temanku mentertawakan aku di depan kelas. Pelajaran metematika yang semuala menegangakan tiba-tiba menjadi santai sejenak. Wajahku berubah warna menjadi merah, betapa melunya sampai-sampai tak ingin rasanya aku terlambat lagi.

            “Kalian berdua boleh mengikuti pelajaran ini asalkan kalian bisa mengerjakan 1 soal yang saya berikan dengan benar “. Tegas pak Warno.

“Baik pak…..”.

Perlahan kami mulai menggoreskan kapur tulis di papan tulis untuk menggerjakan soal yang diberikan oleh pak Warno. Dengan bersusah payah kami berkali-kali mencoba untuk mengerjakan soal yang telah diberikan oleh pak Warno di papan tulis. Tak kusangka akhirnya kami pun berhasil mengerjakan soal tersebut dengan benar. Akhirnya kami diperbolehkan untuk duduk dan mengikuti pelajaran.

***

           Waktu terus berputar pelajaran demi pelajaran telah aku lewati tak terasa sudah 8 jamaku belajar di sekolah hari ini. Tiba waktunya semua siswa untuk pulang. Teng… teng… teng bel pun berbunyi, tanda berakhirnya pelajaran, gerbang pintu sekolah yang tadinya sepi kini mulai diramaikan oleh ribuan suara langkah kakiyang lewat, tak seperti teman-temanku yang pulang dengan raut wajah kegembiraan, aku justru sebaliknya pulang dengan raut wajah yang lesu dan lemas. Tiga puluh menit sudah telah berlalu tak ku sangka telah sampailah aku di depan pintu rumah dan aku pun mulai mengetuk pintu rumah ku, tok…tok…tok…. Assalamu’alaikum…

              “Wa’alaikumsallam” jawab ibu ku, melihat wajahku yang tak biasa ibu lalu bertanya pada ku.

“Kenapa kamu”.

“Ah ngak pa-pa bu aku cuma capek, habis sekolah”.

Ibu ku seakan tak percaya dengan semua kata-kata yang aku ucapkan, ia terus memojokan ku dengan pertanyaannya hingga akhirnya aku akui, “Ya tadi pagi aku habis dimarahi oleh guru ku di sekolah karena aku terlambat bu?”. Tak lama kemudian raut wajah ibu ku tiba-tiba dalam sekejap berubah menjadi sosok yang mengerikan lalu ia memarahi ku dengan suaranya yang keras dan lantang.

“Makanya dengarkan kata orang tua, ibu kan sudah bilang kalau sudah malam tidur jangan kluyuran, lihat akibatnya. Awas kalau besok kamu masih seperti ini lagi maka uang sakumu akan ibu kurangi mengerti….!!!!.

“Ya bu aku menyesal, aku janji tak kan mengulanginya lagi”.

“Baiklah untuk saat ini ibu maaf kan, kalau begitu sekarang cepat ganti bajumu”.

“Baik bu….”.

          Hari ini benar-benar hari yang sangat melelahkan bagiku. Sembari berharap hari ini tak kan terulang lagi dalam hidupku. Hidup memang kadang membosankan tetapi pengalaman hari ini telah memberikan pelajaran besar dalam hidupku. Aku adalah anak bangsa yang akan membangun bangsa, oleh karena itu aku harus berani melawan dan memerangi musuh besar dalam diriku sendiri yaitu malas, supaya tidak terlambat ke sekolah seperti hari ini.

****

                                                                                                                                                                                                     Oleh: Erwan Puji Rahayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s