Analisis Unsur Intrinsik Novel di Bawah Lindungan Ka’bah Karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)

A. Sekilas Tentang Pengarang

Sastrawan dan ulama terkenal serta berpengaruh di Asia tenggara.Ia adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih di kenal dengan sebutan HAMKA.Ia dilahirkan di Maninjau, Sumatra Barat, 16 Februari 1908, meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Berpendidikan SD (sampai kelas dua), Pendidikan Agama dan Bahasa Arab di Sumatra Thawalib, Parabek (Bukittinggi). Seperti kebanyakan orang Minangkabau, HAMKA dalam usia belia (16 tahun) pergi merantau ke Jawa. Di sana ia menimba ilmu dari H.O.S. Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, R.M. Soerjopranoto, K.H. Fakhruddin, dan A.R. Sutan Mansur.

Ia aktif dalam organisasi Muhammadiyah. Tahun 1936 ia pindah ke Medan. Di sini ia memulai karier keulamaannya dan menulis banyak roman. Semasa pendudukan Jepang, HAMKA menjadi penasihat urusan agama pada penguasa militer, sampai Indonesia merdeka. Sejak kemerdekaan ia banyak mengadakan hubungan dengan organisasi-organisasi keislaman di mancanegara. Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Hooris Causa) diterimanya dari Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir (1960) dan Universitas Kebangsaan Malaysia (1974).

HAMKA dikenal karena berpengetahuan luas. Selain itu, ia juga terkenal sebagai ulama yang berpandangan moderat. Pada tahun1975, saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) berdiri, HAMKA terpilih sebagai ketua umum.Ulama besar dan pujangga ini meninggal dunia pada hari jumat, 24 Juli 1981 di Jakarta dan dimakamkan di Tanah Kusir Jakarta Selatan.

HAMKA tidak pernah mengenyam pendidikan formal.Ia belajar agama dari sekolah agama di Padangpanjang dan Parabek (dekat Bukittinggi), serta dari keluarganya.Ia sangat berbakat dalam bidang bahasa. Ia mampu membaca literatur Arab, termasuk terjemahan dari tulisan Barat. Dunia Internasional mengakui keahlian dalam bidang keislaman yang ia peroleh secara otodidak. Ia memimpin majalah Pedoman Masyarakat, Gema Islami, dan Panji Masyarakat dan terakhir ketua umum Majelis Ulama Indonesia sampai tahun 1981.

HAMKA juga dikenal sebagai pengarang roman.Ia sempat dijuluki “Kiai Roman” karena kegiatannya yang dianggap menyalahi tradisi keulamaan itu. Puluhan tahun kemudian barulah julukan itu berubah menjadi “Ulama Pujangga”.

Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) sekitar tahun 1962 menuduh novelnya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (1939) adalah jiplakan dari pengarang Prancis Alphonse Karr (1808-1890), Soul Ies Tilleusls (1932), yang diterjemahkan Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1924) ke bahasa Arab; tahun 1963 edisi Arab ini diindonesiakan A.S. Alatas dengan judul Magdalena. Atas tuduhan itu, Fakultas Sastra Universitas Indonesia mengadakan penelitian dan menyimpulkan bahwa karya HAMKA bukan plagiat.

Fitnah terhadap HAMKA ternyata tidak hanya itu.Ia dipenjara selama dua tahun (1964-1966) dengan tuduhan hendak membunuh Presiden Soekarno dan sejumlah mentri.Buku-buku HAMKA dilarang beredar di masyarakat.Tuduhan itupun ternyata tidak terbukti.Nama baik HAMKA direhabilitasi kembali pada awal masa pemerintahan Presiden Soeharto. Buku-buku HAMKA pun boleh beredar lagi.

Karya-karya HAMKA antara lain berupa novel (roman): Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938), Merantau ke Deli (1938), Karena Fitnah (1939), Keadilan Ilahi (1941), Dijemput Mamaknya (1949), Menunggu Beduk Berbuyi (1950), Lembah Nikmat (1959), Cemburu (1961); Kumpulan cerpennya yaitu: Di dalam Lembah Kehidupan (1941), Cermin Penghidupan (1962), Kenang-kenangan Hidup I-IV (1951-1952), berupa autobiografi, Ayahku (biografi 1967) dan lain-lain. Selain itu HAMKA juga banyak menulis buku yang bersifat keagamaan.

Studi mengenai karya HAMKA dilakukan oleh, antara lain: Amir Hamzah dan H.B. Jassin (ed.), Tenggelamnya Kapal Van der Wijk dalam polemik (1963) dan Junus Amir Hamzah, HAMKA Sebagai Pengarang Roman (1964). Buku lain mengenai HAMKA: Nasir Tamara dkk.(ed.), HAMKA Mata Hati Umat (bunga rampai, 1983).

 

B. Latar belakang

Latar belakang dari dibuatnya novel Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah bahwa penulis ingin agar para pembaca lebih bijak dan dapat memahami orang lain dan agar pembaca nantinya dapat bersabar didalam menghadapi kenyataan walaupun itu sangat menyakitkan.

 

C. Sinopsis Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah

Hamid adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga miskin, sejak berusia empat tahun ia telah menjadi yatim. Setelah itu ia diangkat anak oleh keluarga Haji Jafar yang kaya raya. Haji Jafar sangat menyayangi Hamid sama seperti kepada anaknya, Zainab. Hamid juga disekolahkan bersama-sama dengan Zainab di Sekolah rendah.

Hamid dan Zainab saling menyayangi.Kemanapun mereka selalu bersama-sama. Ketika keduanya beranjak remaja, dalam hati masing-masing tumbuh perasaan lain. Mereka merasakan kasih sayang yang bukan hadir antara adik dan kakak.Perasan itu hanya mereka pendam di dalam hati.Hamid tidak berani mengungkapkan isi hatinya, karena dia sadar bahwa dirinya dengan Zainab memiliki perbedaan yang sangat jauh.Zainab anak orang kaya dan terpandang, sementara dirinya anak orang miskin.

Jurang pemisah itu semakin lama semakin dirasakan Hamid.Berbagai peristiwa membuat dirinya lemah.Peristiwa yang pertama Haji Jafar meninggal dunia, tidak lama kemudian disusul oleh ibunya. Kini ia telah yatim piatu yang miskin. Semenjak kematian Haji Jafar, Hamid tidak bebas lagi menemui Zainab karena Zainab dipingit oleh mamaknya.

Semakin bertambah sedih hatinya, ketika mamaknya, Asiah meminta dirinya untuk memebujuk Zainab supaya mau menerima pemuda pilihan mamaknya.Dengan berat hati Hamid menurutinya. Zainab sangat sedih, dalam hatinya ia menolak kenyataan itu. Karena tidak sanggup menanggung beban hatinya, Hamid meninggalkan kampung halamannya tanpa memberitahu kepada Zainab.Ia pergi ke Medan, setelaha di Medan ia mengirim surat kepada Zainab dengan mencurahkan segala isi hatinya. Dari Medan ia melanjutkan perjalanan ke Singapura, kemudian ke Tanah Suci Mekah.

Setelah ditinggalkan oleh Hamid, semangat hidup Zainab semakin berkurang.Ia merasa tersiksa menahan kerinduan kepada Hamid. Begitupun dengan Hamid, ia selalu gelisah menahan kerinduan kepada Zainab. Selama di Mekah Hamid bekeraja pada sebuah penginapan milik seorang syekh, sambil memperdalam ilmu agama dengan tekun.

Setelah setahun Hamid berada di Mekah.Suatu ketika tibalah musim haji, di tempatnya bekerja banyak jemaah haji yang menginap. Diantara jemaah haji itu ada seseorang yang ia kenal yaitu Saleh teman sekampungnya. Betapa bahagia kedua bersahabat itu.Selain sebagai teman sepermainannya dahulu, istri Saleh yaitu Rosna adalah teman dekatnya Zainab. Dari Saleh ia dapat mengetahui tentang kampungnya dan tentang keadaan Zainab.

Dari Saleh juga, ia mengetahui kalu Zainab mencintainya juga. Sejak kepergian Hamid, Zainab sakit-sakitan.Sebab itulah Zainab tidak jadi menikah dengan pemuda pilihan mamaknya.Sementara orang yang sangat dicintainya pergi entah ke mana.Dia selalu menanti dengan penuh harap.Mendengar seperti itu perasaan Hamid bercampur baur, antara bahagia dan sedih.Bahagia karena dia tau Zainab mencintainya, sedih karena Zainab menderita fisik.Hamid merencanakan kembali pulang ke kampung halamannya.

Setelah pertemuan itu, Saleh langsung mengirim surat kepada Rosna menceritakan pertemuannya dengan Saleh. Rosna langsung memberikan surat itu kepada Zainab. Betapa bahagianya hati Zainab mendapat kabar itu, semangat hidupnya tumbuh lagi dan ia merasa semakin rindu kepada Hamid. Ia pun langsung menulis surat untuk Hamid. Hamid menerimanya dengan suka cita. Semakin bergeloralah semangatnya untuk menyelesaikan ibadah haji, agar ia cepat-cepat dapat pulang ke kampung halamannya. Dalam keadaan sakitpun ia tetap wukup. Kondisi tubuhnya semakin melemah, nafsu makannya menurun dan suhu badannya sangat tinggi.

Karena keadaannya yang kurang stabil, Saleh tidak sanggup memberitahukan kabar tentang Zainab.Namun Hamid mempunyai firasat, karena desakannya akhirnya Saleh memberitahukan bahwa Zainab telah meninggal.Keesokan harinya Hamid tetap memaksakan diri untuk berangkat ke Mina, namun dalam perjalanan dia lunglai.Karena melihat sahabatnya seperti itu, Saleh mengupah orang baduy untuk memapah Hamid.Setelah acara di Mina, mereka kemudian menuju Masjidil Haram.Setelah mengelilingi Ka’bah, Hamid minta diberhentikan di Kiswah.Suaranya semakin melemah dan akhirnya berhenti untuk selama-lamanya.

 

D. Tema

Tema dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) ini bertemakan tentang cinta terhalang kelas sosial. Ini dibuktikan dengan kutipan berikut. Mustahil dia akan dapat menerima cinta saya, karena dia langit dan saya ini bumi, bangsanya tinggi, dan saya hidup darinya tempat buat lekat hati Zainab. Jika kelak datang waktunya orang tua bermenantu, mustahil pula saya akan termasuk dalam golongan orang yang terpilih untuk menjadi menantu Engku Haji Ja’far. Karena tidak ada yang akan diharapkan dari saya. Tetapi Tuan… kemustahilan itulah yang kerap kali memupuk cinta.

Dalam kutipan di atas menggambarakan semua persoalan tentang novel.Dimana Hamid saat itu menimbang diri dengan kenyataaan yang ada.Dia merasa tak sederajat dengan Zainab, hingga berbelit-belit masalah dalam pikirannya. Disisi lain ia tak dapat membohongi hatinya sendiri bahwa ia mencintai Zainab, tapi disisi lain ia juga sadar dengan keadaan dirinya yang tak punya apa-apa.

Selain temanya “Cinta terhalang kelas sosial,” penulis menafsirkan tema yang lain yaitu “Kasih tak sampai”. Ini dibuktikan dengan keduanya (Hamid dan Zainab) mengetahui perasaan masing-masing, tetapi setelah kebahagiaan mengetahui perasaan masing-masing itu mereka menderita menahan rindu. Zainab karena tak kuatnya menahan rindu kepada Hamid ia menjadi sakit-sakitan, sampai ia meninggal dunia. Disusul pula dengan Hamid, Hamid meninggal ketika sedang tawaf.Sebelum mereka bertemu dalam ikatan yang sah atau menikah keduanya telah dipanggil oleh Allah SWT.

Kematian Hamid dibuktikan dengan kutipan berikut. Dibibirnya terbayang suatu senyuman dan…sampailah waktunya. Lepas ia dari tanggapan dunia yang mahaberat ini., dengan keizinana Tuhannya. Di bawah lindungan ka’bah! Sementara kematian Zainab dibuktikan dalam surat Rosna kepada Saleh dengan kutipan berikut.Pada malam 9 Zulhijjah panasnya naik dari biasa. Kira-kira pukul 2 tengah malam dipandangnya adinda tenang-tenang, kemudian pula album yang terletak di meja tulisnya; adinda pun mengertilah apa yang dimaksudnya. Adinda ambil album itu dan adinda buka.Demi dilihatnya gambar Hamid, jatuhlah dua tetes air mata yang bulat dari mata yang telah cekung itu, diambilnya tangan adinda dan tangan ibunya, dibawanya kedadanya. Maka dengan berangsur-angsur laksana lampu yang kehabisan minyak, bercerailah badannya dengan sukmanya

 

 

 

 

E. Alur/Plot

1. Susunan Alur

Susunan alur atau plot dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) adalah sebagai berikut:

a. Pengarang mulai melukiskan keadaan

Cerita ini dimulai saat pengarang melaksanakan rukun Islam yang kelima yaitu ibadah haji. Ketika menginjakan kaki di tanah suci, aku menumpang di rumah seorang syekh yang pekerjaan dan pencahariaannya dari memberi tumpangan bagi orang haji. Di tempat tumpangan itu si Aku bertemu dengan seorang pemuda yang berusia kira-kira 23 tahun. Pemuda itu menurut syekh berasal dari Sumatra. Dalam beberapa hari si Aku dapat berkenalan dengannya. Tetapi baru saja dua bulan si Aku bergaul dengannya, pergaulan itu terusik oleh seorang jemaah dari Padang. Nama Jemaah yang baru itu yaitu Saleh dan sahabat saya sebelumnya yaitu bernama Hamid. Karena merasa penasaran dengan perubahan sifat itu, suatu malam si Aku memberanikan diri menanyakan sebab perubahan sifat itu.

Dengan bukti kutipan berikut.

Pada suatu malam, sedang ia duduk seorang dirinya di atas sutuh, di atas sebuah bangku yang berhamparan daun kurmaberjalin, memandang kepada bintang-bintang yang memancarka`n cahayanya yang indah di halaman langit, saya beranikan hati mendekatkan diri dengannya. Maksud saya kalau dapat hendak membagi kedukaan hatinya. Karena merasa percaya kepada si Aku, bahwa rahasia ini akan ditutupi sebelum dirinya meninggal, maka Hamid menceritakan semua pengalamannya yang membuat dirinya bersedih. Dengan bukti kutupan berikut. “Jika telah demikian Tuan Berjanji, tentu Tuan tidak akan menyia-nyiakan janji itu dan saya telah percaya penuh kepada tuan, karena kebaikan budi Tuan dalam pergaulan kita selama ini. Saya akan menerangkan kepada Tuan sebab-sebab saya bersedih hati, akan saya paparkan satu persatu, bagaimana berkata-kata dengan hati saya sendiri. Memang, saya harap Tuan simpan cerita perasaan saya ini selama saya hidup, tetapi jika saya lebih dahulu meninggal daripada Tuan, siapa tahu ajal di dalam tangan Allah, saya izinkan Tuan menyusun hikayat ini baik-baik, mudah-mudahan ada orang yang akan meratap memikirkan kemalangan nasib saya, meskipun mereka tak tahu siapa saya. Moga-moga air matanya akan menjadi hujan yang dingin memberi rahmat kepada saya di tanah pekuburan.

Setiap pagi ia menjungjung nyiru berisi gorengan, setiap pagi itu pula seorang perempuan, tetangga baru Hamid selalu memberi gorengan itu. Suatu ketika Hamid ditanya oleh perempuan itu tentang keberadaannya, namanya Mak Asiah. Hamid menjawab dengan apa adanya tentang kehidupannya. Rupanya setelah mendengar penjelasan Hamid, Mak Asiah merasa kasian. Akhirnya Hamid diangkat anak oleh suaminya mak Asiah yaitu Haji Ja’far. Perhatian Haji Ja’far dan Mak Asiah sangat baik. Hamid dianggap seperti anaknya sendiri. Mereka sangat baik kepada Hamid karena perilaku Hamid terpuji dan taat beragama. Karena itu pula Hamid disekolahkan bersama dengan Zainab, anak kandung Haji Jafar di sekolah rendah. Dengan bukti kutipan berikut:

Pada suatu pagi saya datang ke muka ibu dengan perasaan yang sangat gembira, membawa kabar suka yang sangat membesarkan hatinya, yaitu besok Zainab akan diantarkan ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan dengan belanja Engku Haji Ja’far sendiri bersama-sama anaknya.

b. Peristiwa yang bersangkut paut mulai bergerak

Fase ini merupakan fase yang menceritakan Hamid memiliki perasan yang lain terhadap Zainab. Perasaan sayang yang dahulu dirasakan seorang kakak terhadap seorang adik, tetapi kini perasaan itu berubah menjadi rasa sayang seorang seorang laki-laki remaja terhadap gadis remaja.

Bermula saat Hamid dan Zainab tamat tamat sekolah. Seperti biasa karena Zainab anak perempuan ia tidak melanjutkan sekolah, sementara Hamid karena anak laki-laki ia dapat meneruskan sekolah. Itu pun karena bantuan dari Engku Haji Ja’far. Hamid melanjutkan cita-citanya itu di Padang Panjang. Tetapi sejhak ia pindah ke Padang Panjang, ia merasa kesepian. Ia merasa kehilangan teman yang selalu menemaninya Zainab.

Dengan bukti kutipan berikut.

Saya berasa sebagai seorang yang kehilangan, padahal jika saya periksa penaruhan saya, pasti meja tulis, kain dan baju, semuanya cukup. Tetapi badan saya ringan, seakan-akan ada suatu kecukupan yang telah kurang.

Jika waktu pakansi tiba gembiralah hati Zainab. Tetapi karena perasaan itu, perbuatan Hamid kala di depan Zainab sering menjadi seorang yang bodoh dan pengecut. Segala rencan yang telah ia reka-reka semuanya hilang tatkala berada di depan Zainab. Dengan bukti kutipan berikut.

Setelah itu saya berangkat; seketika saya melengong yang penghabisan ke belakang, nyata kelihatan oleh saya Zainab berdiri di pintu tengah, melihat kepada saya. Di situ timbul pula kembali sifat saya yang pengecut; saya menghadap ke muka dan saya pun pergi…

c. Keadaan mulai memuncak

Pada fase ini diceritakan bahwa Hami2d mendapatkan musibah besar yang tak disangka-sangkanya secara berturut-turut, yaitu meninggalnya Haji Jafar dan ibunya. Semenjak kepergian Haji Ja’far itu, semuanya menjadi berubah. Hamid tak dapat leluasa menemui Zainab, karena Zainab telah dipingit oleh mamaknya.

Dengan bukti sebagai berikut: Setelah beberapa lama kemudian, dengan tidak disangka-sangka satu musibah besar telah menimpa kami berturut-turut. Pertama ialah kematian yang sekonyong-konyong dari Engku Haji Ja’far yang dermawan itu…Kematiannya membawa perubahan, yang bukan sedikit kepada perhubungan dengan rumah tangga Zainab. Belum beberapa lama setelah budiman itu menutup mata, datang pula musibah baru kepada diri saya. Ibu saya yang tercinta, yang telah membawa saya menyebrangi hidup bertahun-tahun telah ditimpa sakit, sakit yang selama ini telah melemahkan badannya, yaitu penyakit dada. …ia melihat kepada saya tenang-tenang, alamat perpisahan yang akhir. Dari mulutnya keluar kalimat baka, bersama kepergian nyawanya ke dalam alam suci…

d. Peristiwa mencapai klimaks

Fase ini merupakan fase yang sangat dahsyat dalam perjalanan cerita. Sudah sedih kehilangan dua orang yang sangat dicintai yaitu Haji Ja’far dan Ibunya, kini ia dihadapkan pada satu perintah yang bertolak belakang dengan keinginanya. Mak Asiah meminta Hamid untuk melunakan hati Zainab supaya Zainab mau dipertunangkan dengan seorang laki-laki kemenakan almarhum haji Ja’far yang ada di Padang Hulu. Dengan bukti kutipan berikut.

“…Dapatkah engkau menolong mamak, melunakan hatinya dan membujuk dia supaya mau? Hamid! … Mamak percaya kepadamu sepenuh-penuhnya,sebagai mendiang bapakmu percaya kepada engkau!”

Walaupun dengan berat hati, Hamid tetap mengabulkan permintaan Mak Asiah. Dengan bukti kutipan berikut.

“O, itu namanya perintah, saya kabulkan permintaan Mamak.”

Setelah selesai Hamid membujuk Zainab, Zainab kelihatannya sedih sekali. Dengan bukti kutipan berikut.

…Setelah kira-kira lima menit lamanya, barulah mukanya diangkatnya, air matanya kelihatan menggelenggang, mengalir setitik dua titik ke pipinya yang halus montok itu.

Setelah kejadian pada pada hari itu, Hamid memutuskan untuk meninggalkan kota Padang tanpa sepengetahuan Zainab. Hamid menuju kota Medan, ketika di Medan Hamid mengirimkan surat kepada Zainab, dengan meberanikan diri mencurahkan segala perasaan yang selama ini dipendamnya. Setelah dari Medan Hamid menuju ke Singapura, selanjutnya ke Tanah Suci Mekah.

e. Pengarang memberikan pemecahan soal dari semua peristiwa

Ketika di Mekah Hamid bertemu dengan Saleh, teman sekampungnya yang kebetulan akan menunaikan ibadah Haji. Kehadiran Saleh memberikan informasi kepada Hamid tentang keadan di kampungnya dan tentang Zainab. Tentu ini semua membuat bahagia Hamid. Saleh juga memberi tahu bahwa Zainab mencintai Hamid, Saleh tau hal tersebut dari istrinya yaitu Rosna yang kebetulan Rosna adalah teman sepermainannya Zainab. Dibuktikan lagi dengan surat yang dikirim Zainab kepada Hamid. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

Hanya kepada bulan purnama di malam hari adinda bisikan dan pesankan kerinduan adinda hendak bertemu. Tetapi, bulan itu tak tetap datang; pada malam yang berikutnya dan seterusnya ia kian surut…Hanya kepada angin petang yang berhembus diranting-ranting kayu dekat rumahku, hanya kepadanya aku bisikan menyuruh supaya ditolongnya memeliharakan Abangku yang berjalan jauh…

Begitupun dengan Zainab kini ia telah mengetahui keberadaan Hamid, seseorang yang ia nantikan selama bertahun-tahun. Karena Saleh pula cinta keduanya jadi terbuka, Hamid dan Zainab kini sama-sama telah mengetahui perasaan masing-masing, yang ternyata cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan.

Tetapi sebelum keduanya bertemu di tanah air, Tuhan telah berkehendak lain. Zainab dipanggil-Nya, disusul pula oleh Hamid yang juga di paggil-Nya.

Jadi berdasarkan uraian di atas susunan alur/plot novel Di Bawah Lindungan Ka’bah Karaya Haji Abdul Malik Karim Amrulla (HAMKA) dapat dikatakan sebagai plot sorot balik atau flasback.

1. Ketegangan atau suspence

1. Saat Hamid diminta oleh Mak Asiah untuk melunakan hati Zainab agar menerima pinangan laki-laki pilihan mamaknya. Saat ini tergambar bagaiman keraguan dan kebimbangan hati Hamid. Disisi lain ia tak mau mengecewakan Mak Asiah yang telah memberi kepercayaan kepadanya, disisi lain perasaan Hamid bertolak belakang dengan keinginan Mak Asiah. Dari keraguan itu menimbulkan pertanyaan, apakah Hamid menuruti permintaan Mak Asiah atau tidak untuk melunakan hati Zainab?

2. Setelah Hamid dan Zainab sama-sama mengetahui perasaan masing-masing yaitu saling mencintai, apakah mereka akan bersatu dalam ikatan yang sah yaitu sebuah pernikahan?

3. Padahan Pembayangan

1) Hamid tidak melakukan perintah Mak Asiah dengan dasar ia tak sanggup menyuruh Zainab mengerjakan suatu pekerjaan yang berlawanan dengan kehendak hatinya. Tetapi dalam kenyataannya, Hamid tetap melakukan perintah Mak Asiah walupun demgan berat hati.

2) Dugaan pembaca saat Hamid dan Zainab mengetahui perasaan masing-masing dan ternyata cinta keduanya tidak bertepuk sebelah tangan, yaitu cinta keduanya dapat dilabuhka sampai pernikahan. Tetapi kenyataannya sebelum keduanya bertemu, keduanya terlebih dahulu telah dipanggil oleh Allah SWT. Hingga cinta keduanya sebatas angan-angan.

4. Gambaran susunan alur/plot secara kualitatif

Secara kualitatif susunan alur atau plot novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) adalah alur atau plot erat. Disebut alur atau plot erat karena dari awal cerita hingga akhir cerita memiliki hubungan yang kuat sekali, antara peristiwa satu keperistiwa yang lain. Hubungannya begitu padu, sehingga jika pembaca melompati salah satu peristiwa, pembaca tidak akan menemukan cerita secara utuh dan akan mengurangi kesan yang menarik yang telah disampaikan penulis.

5. Gambaran susunan alur/plot secara kuantitatif

Secara kuantitatif alur atau plot novel Di Bawah Lindungan Ka’bah ini yaitu alur atau plot ganda. Disebut alur atau plot ganda karena susunan peristiwanya lebih dari satu. Cerita dari awal sampai akhir menceritakan menceritakan Hamid seorang laki-laki dari keluarga miskin yang mencintai Zainab seorang gadis dari keluarga kaya dan ayahnya yang mengangkat anak kepada Hamid. Hubungan mereka pun berawal dari seorang kaka dan seorang adik. Tapi lambat laun, ketika usia mereka menginjak remaja, perasaan mereka bukanlah perasaan seorang kakak dan seorang adik lagi. Begitulah seterusnya hingga akhir cerita. Semuanya menceritakan kisah cinta Hamid dan Zainab.

 

F. Tokoh dan Perwatakan

1. Tokoh-tokoh

a. Hamid sebagai tokoh utama karena Hamid digambarkan dalam cerita hampir menjelajahi seluruh persoalan.

b. Zainab sebagai tokoh utama karena Zainab tokoh yang menjadi kejaran Hamid dan hampir menjelajahi seluruh persoalan.

c. Ibu sebagai tokoh bawahan karena kehadirannya hanya saat-saat tertentu dan tidak menjelajahi seluruh persoalan dalam cerita.

d. Haji Ja’far sebagai tokoh bawahan karena kehadiranya dalam cerita tidak menjelajahi seluruh persoalan.

e. Mak Asiah sebagai tokoh bawahan karena kehadiranya dalam cerita tidak menjelajahi seluruh persoalan.

f. Saleh sebagai tokoh bawahan karena kehadiranya dalam cerita tidak menjelajahi seluruh persoalan.

g. Rosna sebagai tokoh bawahan karena kehadirannya dalam cerita tidak menjelajahi seluruh persoalan.

2. Penggambaran watak tokoh-tokoh

a. Tokoh Hamid

Tokoh Hamid mempunyai watak berubah/roud character. Hal tersebut di atas digambarkan oleh pengarang sebagai berikut.

1) Cara langsung atau Analitik

Pada bagian lain Hamid digambarkan sebagai seorang laki-laki yang tabah dan sabar serta tegar. Pada penggambaran ini dinamika kepribadian Hamid yang dominan yaitu superego yang menguasai aspek atau tugas kerja id dan ego…sehingga Hamid berperilaku baik dan taat kepada nilai dan norma, baik norma hukum, sosial, dan agama.

Dengan bukti kutipan berikut.

…Hidupnya amat sederhana, tiada lalai dari ibadat, tiada suka membuang waktu kepada yang tidak berpaedah, lagi amat suka memperhatikan buku-buku agama, terutama kitab-kitab yang menerangkan kehidupa orang-orang yang suci, ahli-ahli tasawuf yang tinggi (Pada bagian lain ia digambarkan menjadi seorang yang pemurung, pengecut. Dengan bukti kutipan berikut….kadang-kadang kelihatan ia bermenung seorang diri di atas sutuh rumah tempatnya tinggal, melihat tenang-tenang kepada “gela’ah” (benteng-benteng) tua di atas puncak Jabal Hindi.

…Cuma ketika berhadapan dengan Zainab dalam rumahnya mulut saya tertutup, saya menjadi seorang bodoh dan pengecut.

2) Cara tak langsung atau Dramatik

a) Dengan menggambarkan fisik tokoh

…Seorang anak muda yang baru berusia kira-kira 23 tahun, badannya kurus lampai, rambutnya hitam berminyak, sifatnya pendiam, suka bermenung seorang diri…

b) Dengan menggambarkan tempat atau lingkungan tokoh

Setelah Hamid memutuskan meninggalkan kampungnya ia pergi ke Medan, terus melanjutkan perjalanan ke Singapura. Dan kemudian dia pergi ke Tanah Suci Mekah. Di Mekah ia bekerja pada sebuah penginapan milik syekh, sambil bekerja ia terus memperdalam ilmu agamanya.

Dengan bukti kutipan berikut.

Tidak lama saya di Medan, saya menuju Singapura, mengembara ke Bangkok,berlayar terus memasuki tanah-tanah Hindustan, dan dari Karachi berlayar menuju ke Basrah, masuk ke Irak, melalui Sahara Nejd dan akhirnya sampailah saya ke Tanah Suci ini.

Sekaran sudah Tuan lihat, saya telah ada di sini, di Bawah Lindungan Ka’bah yang suci, terpisah dari pergaulan manusia yang lai. Disinilah saya selalu terpekur dan bermohon kepada Tuhan sarwa sekalian alam, supaya ia memberi saya kesabaran dan keteguhan hati menghadapi kehidupan. Setiap malam saya duduk beritikaf di dalam Masjidil Haram, doa saya telah berangkat ke langit hijau membungbung ke dalam alam gaib bersama-sama permohonan segala makhluk yang makbur.

Jadi, tokoh Hamid digambarkan wataknya dengan cara camupan.

b. Zainab

Zainab mempunyai watak berubah/roud character. Tokoh Zainab ini digambarkan oleh pengarang mengalami perubahan wataknya, setelah terjadi peristiwa yaitu Hamid pergi tanpa memberi tahu dirinya. Hal tersebut di atas digambarkan oleh pengarang sebagai berikut:

1) Cara Langsung atau Dramatik

Zainab seorang gadis yang baik, walaupun ia anak orang kaya tetapi dia mau berteman dengan orang miskin. Dengan bukti kutipan berikut.

…meskipun saya hanya anak yang beroleh tolongan dari ayahnya, sesekali tidaklah Zainab memandang saya sebagai orang lain lagi, tidak pula pernah mengangkat diri, agaknya karena kebaikan didikan ayah bundanya.

2) Cara Tak Langsung atau Dramatik

a) Menggambarkan tempat lingkungan tokoh

Zainab lahir dan tumbuh pada keluarga kaya dengan didikan orang tua yang memegang agama, peramah, dan mencintai orang miskin. Sehingga wataknya tak jauh dari dari kedua orang tuanya yaitu rendah diri. Dengan bukti kutipan sebagai berikut….tidak pernah mengangkat diri, agaknya karena kebaikan didikan ayah bundanya…

b) Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa. Zainab seorang gadis yang lemah. Dengan bukti kutipan dari surat Rosna kepada Saleh sebagai berikut.

Akan hal Zainab, ia sekarang sakit-sakitan, badannya telah kurus. Agaknya karena selalu ingat kepada kejadian yang lama-lama itu…

 

Zainab menjadi putus asa. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

Semenjak itu, entah di lautan entah di daratan, berita tak sampai-sampai lagi,kian lama dia hilang, kian berdiri dia dalam ingatanku. Kadang-kadang saya menjadi putus pengharapan, hatiku kerap berkata, bahwa saya takan bertemu lagi dengan dia. Jadi, tokoh Zainab digambarkan wataknya dengan cara campuran, yaitu dengan cara langsung dan tak langsung.

c) Tokoh Haji Ja’far

Tokoh Haji Ja’far mempunyai watak datar atau flat character. Dalam cerita ini, Haji Ja’far intensitas keterlibatanya hanya digambarkan sedikit, itu pun memiliki watak tidak berubah. Hal tersebut di atas digambarkan oleh pengarang sebagai berikut.

1) Dengan cara langsung atau analitik

Haji Ja’far mempunyai watak baik hati dan dermawan. Hal ini dibuktikan dengan kutipan sebagai berikut….ia seorang yang sangat dicintai oleh penduduk negeri, karena ketinggian budinya dan kepandaiannya dalam pergaulan; tidak ada satupun perbuatan umum di sana yang tak dicampuri oleh Engku Haji Ja’far.

Pribahasa yang halus dari Mak Asiah, adalah didikan juga dari suaminya, adalah seorang hartawan yang amat peramah kepada fakir dan miskin.

2) Cara Tak Langsung atau Dramatik

a) Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa.

Haji Jafar memiliki watak dermawan. Dengan bukti kutipan berikut.

…besok Zainab akan diantarkan ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan dengan belanja Engku Haji Ja’far sendiri bersama-sama anaknya.

b) Dengan menggambarkan dialog para tokoh

(1) Dialog tokoh Haji Ja’far dengan tokoh lain yaitu sifat dermawan. Dengan bukti kutipan sebagai berikut:

“Belajarlah sungguh-sungguh, Hamid, mudah-mudahan engkau lekas pintar dalam perkara agama dan dapat hendaknya saya menolong engkau sampai tamat pelajaranmu…

(2) Dialog tokoh lain yaitu ibu dengan Hamid yang menceritakan watak tokoh Haji Ja’far. Haji Ja’far memiliki watak dermawan. Dengan kutipan sebagai berikut.

“Ayahnya, orang yang telah memenuhi cita-cita kita dengan nikmat…”

Jadi, Haji Ja’far digambarkan wataknya dengan cara campuran, yaitu dengan cara langsung atau analitik dan dengan cara tak langsung atau dramatik.

d) Mak Asiah

Mak Asiah mempunyai watak datar/flat character, karena intensitas keterlibatannya juga sedikit. Hal tersebut dibuktikan dengan kutipan sebagai berikut.

1) Cara langsung atau analitik

Sama halnya dengan dengan Haji Ja’far, Mak Asiah pun memiliki watak dermawan dan rendah hati, serta memiliki rasa belas kasihan. Dengan bukti kutipan sebagai berikut….sekali-kali tiada meninggikan diri, sebagai kebiasaan perempuan-perempuan istri orang hartawan atau orang berpangkat yang lain. Bahkan ibuku dipandangnya sebagai saudaranya, segala perasaian dan penanggungan ibu didengarnya dengan tenang dan muka yang rawan….

2) Cara tak langsung atau dramatic

a) Dengan menggambarkan fisik tokoh

Watak Mak Asiah yaitu penyayang. Dengan bukti kutipan sebagai berikut. Perempuan itu memakan sirih, mukanya jernih, peramah dan penyayang.

b) Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa Mak Asiah memiliki watak hatinya mudah tersentuh, ketika mendengar kesusahan orang lain. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

…segala perasaian dan penanggungan ibu didengarnya dengan tenang dan muka rawan, kadang-kadang ia pun turut menangis waktu ibu menceritakan hal-hal yang sedih-sedih. Sehingga waktu cerita itu habis, terjadilah diantara keduanya persahabatan yang kental, harga-menghargai dan cinta mencintai.

Jadi, tokoh Mak Asiah digambarkan wataknya dengan cara campuran, yaitu dengan cara langsung atau analitik dan dengan cara tak langsung atau dramatik.

e) Tokoh Ibu

Ibu digambarkan menjadi seorang tokoh yang mengalami perubahan watak. Pada bagian lain ibu memiliki watak putus asa, tetapi dibagian lain lagi ibu memiliki watak tidak putus harapan. Kadangkala ibu seorang pemarah, seorang yang penuh kasih sayang. Hal tersebut digambarkan oleh pengarang sebagai berikut.

1) Cara langsung atau analitik

Pada bagian ini ibu memiliki sifat putus asa, dengan bukti kutipan sebagai berikut….kemiskinan telah menjadikan ibu putus harapan memandang kehidupan dan pergaulan dunia ini, karena tali tempat bergantung sudah putus dan tanah tempat berpijak sudah terban…

Pada bagian kedua ibu memiliki sifat pemarah, dengan bukti kutipan berikut….Mula-mula ibu seakan-akan hendak menampik, dia agak marah kepada saya, kalau-kalau saya telah bercepat mulut menerangkan untung perasaian kami kepada orang lain.

Pada bagian lain ibu memiliki watak tidak putus harapa. Dengan bukti kutipan sebagai berikut….Tetapi ibu kelihatan tidak putus harapa, ia berjanji akan berusaha, supaya kelak saya menduduki bangku sekolah, membayarkan cita-cita almarhum suamiya yang sangat besar angan-angannya, supaya kelak saya menjadi orang yang terpakai dalam pergaulan hidup.

Pada bagian selanjutnya ibu bersifat sabar. Dengan bukti kutipan sebagai berikut. Masa setahun lagi ditunggunya dengan sabar .

Ibu juga memiliki sifat penyayang, ia tidak menginginkan Hamid sedih, dan ia juga tidak mengharapkan anaknya tak punya teman, sehingga disuruhya Hamid untuk bermain. Dengan bukti kutipan sebagai berikut. Di waktu teman-teman bersukaria bersenda gurau, melepaskan hati yang masih merdeka, saya hanya duduk dalam rumah didekat ibu, mengerjakan apa yang dapat saya tolong. Kadang-kadang ada juga disuruhnya saya bermain-main, tetapi hati saya tiada dapat gembira sebagai teman-teman itu, karena kegembiraan bukanlah saduran dari luar, tetapi terbawa oleh sebab-sebab yang boleh mendatangkan gembira itu.

2) Cara tak langsung atau dramatic

Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku tokoh atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa. Ibu memiliki watak peka terhadap keadaan. Dengan bukti kutipan berikut.

“Sebagai seorang yang telah lama hidup, ibu telah mengetahui suatu rahasia pada dirimu.” Jadi, tokoh ibu digambarkan wataknya dengan cara campuran, yaitu cara langsung atau analitik dan cara tak langsung atau dramatik.

f) Tokoh Saleh

Tokoh Saleh mempunyai watak berubah/roud character. Pada sisi lain Saleh memiliki watak susah memegang rahasia, tapi pada sisi lain lagi ia seorang yang setia kawan. Hal tersebut digambarkan oleh pengarang sebagai berikut.

1) Cara langsung atau analitik

Saleh memiliki watak setia kawan. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

…Demi kelihatan hal itu jantung saya berdebar-debar, saya kasihan kepadanya, kalau-kalu ditempat itulah ia akan bercerai buat selama-lamanya dengan kami…

2) Cara tak langsung atau dramatic

a) Dengan menggambarkan dialog para tokoh Saleh memiliki watak susah memegang rahasia. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

“Barangkali terganggu perjalanan jiwa menuju bakti dan kesucian karena mendengar berita yang saya bawa itu.” kata Saleh, “Tetapi saya sebangsa orang tiada tahan memegang rahasia, sehingga terkatan juga olehku kepada engkau dan beruntung egkau Hamid…berbahagia sekali.”

b) Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa. Saleh memiliki watak setia kawan. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

…Karena penyakit Hamid rupanya bertambah berat, terpaksalah kami mencarikan orang Badui upahan…

g) Tokoh Rosna

Tokoh Rosna mempunyai watak flat character atau watak datar. Dari awal sampai akhir watak Rosna digambarkan tidak ada perubahan. Hal tersebut digambarkan oleh pengarang sebagai berikut.

1) Cara langsung atau Analitik

Rosna memiliki watak setia dan teguh hati. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

…Dia menceritakan kepadaku, bahwa dia telah beristri dan istrinya telah sudi melepaskan dia berlayar sejauh itu, padahal mereka baru kawin. Dipujinya istrinya sebagai seorang perempuan yang setia yang teguh hati melepas suaminya berjalan jauh, karena untuk menambah pengetahuannya…

Rosna juga memiliki watak mudah tersentuh. Dengan bukti kutipan sebagai berikut. Tiada tahan rupanya hati istriku melihat kejadian itu, maklumlah kaum perempuan itu seperasaan…

2) Dengan cara tak langsung atau dramatic

a) Dengan menggambarkan perbuatan atau tingkah laku atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa Rosna memiliki watak setia kawan, dengan keadaan yang bagaimana pun ia selalu berada di samping Zainab. Ketika Zainab bersedih, ia menjadi tempat mencurahkan isi hati, ia memeluk Zainab karena merasakan sedihnya hati Zainab. Dengan bukti kutipan berikut.

…seketika lamanya kedua sahabat itu berpeluk-pelukan, bertangis-tangisan, tidak berkata-kata. Jadi, tokoh Rosna digambarkan wataknya dengan cara campuran, yaitu dengan cara langsung atau analiti dan cara tak langsung atau dramatik.

h) Tokoh Aku (Pengarang)

Tokoh aku memiliki watak datar. Hal tersebut digambarkan pengarang sebagai berikut.

1) Cara langsung atau analitik

Tokoh aku memiliki watak lemah hati. Dengan bukti kutipan sebagai berikut. Sebenarnya saya ini pun seorang yang lemah hati, kesedihannya itu telah berpindah ke dada saya, meskipun saya tak tahu apa yang disedihkannya.

2) Cara tak langsung atau dramatic

a) Dengan menggambarkan dialog tokoh

Tokoh Aku memiliki watak mudah dipercaya, ini dibuktikan dengan Hamid mempercayai dirinya dapat memegang rahasia. Dengan bukti kutipan berikut.

“…saya telah percaya penuh pada Tuan, karena kebaikan budi Tuan dalam pergaulan kita selama ini…” Jadi, tokoh aku digambarkan wataknya dengan cara campuran, yaitu dengan cara langsung atau analitik dan cara tak langsung atau dramatik.

 

G. Latar atau Setting

1. Latar Tempat

a. Di Mekah

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.

1) …Dua hari kemudian saya pun sampai di mekkah, Tanah Suci kaummuslim sedunia.

2) …Akhirnya sampailah saya ke tanah suci ini.

3) …pada hari keduabelas kami berangkat ke Mekkah…

b. Di Kota Padang

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.

…Ayah pindah ke kota padang, tinggal dalam rumah kecil yang kami diami itu…

 

c. Di Rumah

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.

…saya hanya duduk dalam rumah didekat ibu…

d. Di Halaman Rumah

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.

1) …setelah saya akan meninggalkan halaman rumah itu…

2) …saya dan Zainab bersama teman-teman kami yang lain berlari-lari bermain galah dalam pekarangan rumahnya….

e. Di Puncak Gunung Padang

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini. Waktu orang berlimau, sehari orang akan berpuasa, kami dibawa ke atas puncak Gunung Padang….

f. Di Padang Panjang

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.

1) Saya tidak beberapa bulan setelah tamat sekolah, berangkat ke Padang Panjang….

2) Setelah puasa habis, saya kembali ke Padang Panjang.

g. Di Pesisir Arau

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.

…di waktu saya sedang berjalan-jalan seorang diri di Pesisir Arau yang indah itu…

h. Pekuburan Ma’ala

Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.

Sehari sebelum kami meninggalkan Mekkah, pergilah kami berziarah ke kuburan Ma’ala, tempat Hamid di kuburkan.

2. Latar Waktu

a. Tahun 1927

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.

1) Mekah Pada Tahun 1927 (judul bagian 1).

2) Konon kabarnya, belumlah pernah orang naik haji seramai tahun 1927 itu, baik sebelum itu ataupun sesudahnya.

b. Bulan Ramadan, Bulan Syawal

Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.

Baharu dua bulan saja, semenjak awal Ramadan sampai syawal…

c. Bulan Zulhijjah

Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.

1) Pada hari kedelapan bulan Zulhijjah, datang perintah dari syekh kami…

2) Pada malam 9 Zulhijjah panasnya naik dari biasa.

d. Pagi

Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.

1) Pada suatu pagi saya datang ke muka ibu…

2) Besok paginya, saya tidak menjunjung nyiru tempat kue lagi…

3) Tiap-tiap pagi saya selalu di hadapan rumah itu…

e. Hari Minggu

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti kutipan sebagai berikut.

Hari Minggu kami diizinkan pergi ke tepi laut…

f. Malam

Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.

1) Pada suatu malam, sedang ia duduk seorang dirinya…

2) Di waktu malam, ketika akan tidur, kerap kali Ibu menceritakan kebaikan Ayah…

g. Sore

Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan sebagai berikut.

…Kadang-kadang di waktu sore kami duduk di beranda muka…

3. Latar Lingkungan Sosial

a. Lingkungan sosial keagamaan

Hal tersebut dibuktikan dengan pelaksanaan ibadah haji. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

1) …Pergi wukuf ke Arafah menjadi rukun yang tak dapat ditinggalkan pada pekerjaan haji, tak dapat ia pun mesti ikut ke sana…

2) …berhenti sebentar di Mudzalifah memilih batu untuk melempar “jumroh”di Mina itu kelak…

3) …dibawalah dia tawaf keliling Ka’bah tujuh kali (HAMKA, 2010:61).

b. Lingkungan sosial penghasilan rendah

Hal tersebut dibuktikan dengan Hamid ketika kecil ia harus mencari rizki sendiri untuk menyambung hidup dirinya dan ibunya. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

1) Setelah saya agak besar, saya lihat banyak anak-anak yang sebaya saya menjajakan kue-kue; maka saya mintalah kepadanya supaya dia sudi pula membuat kue-kue itu, saya sanggup menjualkannya dari lorong ke lorong, dari satu beranda rumah orang-orang ke beranda yang lain, mudah-mudahan dapat meringankan agak sedikit tanggungan yang berat itu.

2) Tiap-tiap pagi saya lalu di hadapkan rumah itu menjungjung nyiru berisi goreng pisang…

4. Latar Suasana

a. Suasana sedih

1) Hal tersebut digambarkan ketika Hamid sedang melakukan tawaf, ia mengeluarkan air mata. Dengan bukti kutipan berikut.

…air matanya titik amat derasnya membasahi sorban yang membalut dadanya…

2) Suasana sedih anak perempuan yang tamat sekolah karena akan masuk pingitan. Dengan bukti kutipan berikut.

Yang berasa sedih amat, adalah anak-anak perempuan yang akan masuk pingitan; tamat sekolah bagi mereka artinya suatu sangkar yang telah tersedia buat seekor burung yang bebas terbang…

3) Suasana sedih karena kematian Haji Jafar dan ibunya. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

“Tidak mak, cuma kematian yang bertimpa-timpa itu agak mendukakan hatiku, itulah sebabnya saya kurang keluar dari rumah.”

4) Suasana sedih ketika Hamid melunakan hati Zainab supaya mau ditunangankan. Dengan bukti kutipan berikut.

…air matanya kelihatan menggelenggang, mengalir, setitik dua titik kepipinya…

5) Suasana sedih ketika Zainab menceritakan isi hatinya kepada Rosna. Dengan bukti kutipan berikut.

Air mata Zainab kembali jatuh…

6) Suasana sedih ketika Hamid mengetahui bahwa Zainab telah meninggal. Dengan bukti kutipan berikut.

Melihat itu kepalanya tertekun ia menarik nafas panjang, dari pipinya meleleh dua titik air mata yang panas.

b. Suasana Bahagia

1) Suasana bahagia ketika Hamid dapat bersekolah. Dengan bukti kutipan berikut.

Pada suatu pagi saya datang ke muka ibu saya dengan perasaan yang sangat gembira, membawa kabar suka yang sangat membesarkan hatinya, yaitu besok Zainab akan diantarkan ke sekolah dan saya dibawa serta. Saya akan disekolahkan dengan belanja Engku Haji Ja’far sendiri bersama-sama anaknya.

Mendengar perkataan itu, terlompatlah air mata ibuku karena suka cita, kejadian yang selama ini sangat diharap-harapkannya.

2) Suasana bahagia jika waktu pakansi tiba. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

Bilamana pakansi puasa telah datang, gembiralah hati saya, karena akan dapat saya menghadap ibu saya, memaparkan dihadapannya, bahwa dia sudah patut gembira, karena anaknya ada harapan akan menjadi orang alim…

3) Suasana bahagia ketika pakansi tiba, bertemu dengan ibu dan Haji Ja’far serta dengan Mak Asiah dan Zainab. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

…Ibu saya titik air matanya karena kegirangan, Engku Haji Ja’far tersenyum mendengar saya mengucapkan terima kasih. Mak Asiah memuji saya sebagai anak yang berbudi.

4) Suasana bahagia saat Hamid berkunjung ke rumah Zainab. Dengan bukti kutipan berikut.

Waktu itu kelihatan nyata oleh saya mukanya merah, nampak sangat gembiranya melihat kedatangan saya.

5) Suasana bahagia Mak Asiah datang saat Hamid sudah ada di rumahnya. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

Mak Asiah masuk dengan gembira, seraya berkat, “Sudah lama, Mid?”

7) Suasana bahagia setelah Saleh selesai bercerita tentang Zainab. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

Habis cerita sahabatku Hamid sehingga itu, mukanya kelihatan berseri-seri,sebab simpanan dadanya yang meluap selama ini telah dapat ditumpahkannya kepada orang yang dipercayainya.

8) Suasana bahagia ketika Hamid mendapat surat dari Zainab. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

Akan dapatkah dilukiskan, dapatkah diperikan bagaiman wajah Hamid ketika membaca surat itu.Dapatkah,mungkinkah dikira-kirakan bagaiman perasaannya waktu itu? Surat demikian adalah pengharapannya selama ini,buah mimpinya.Memikirkan kerendahan derajatnya, tiadalah disangka-sangkanya, bahwa ia akan seberuntung itu, menerima surat Zainab.

 

H. Gaya

1. Gaya pengarang

Gaya pengarang dalam mengungkapkan seluruh cerita adalah dengan bentuk narasi dan deskripsi. Pengarang mengungkapkan tema yang dipilihnya dengan bahasa yang halus, disertai dengan bahasa-bahasa yang berhubungan dengan keagamaan. Dia memilih susunan peristiwa agak berbelit-belit, karena dalam cerita ada sebuah cerita, sehingga membutuhkan ketelitian bagi pembaca. Tokoh yang ditampilkan diungkapkan secara terang-terangan. Untuk setting banyak perubahan, pada bagian awal latar tempat digambarkan di Mekah, pada penggambaran selanjutnya dibeda tempat, sehingga susah dicerna oleh pembaca. Dia menyusun plot tanpa dimulai dari awal, tetapi pada bagian amanat sangat jelas tergambar. Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.

a. Bahasa-bahasa yang digunakan berhubungan dengan keagamaan. Dengan bukti kutipan berikut.

…pergi wukuf ke Padang Arafah menjadi rukun yang tak dapat ditinggalkan pada pekerjaan haji…

b. Karakter-karakter tokoh yang ditampilkan diungkapkan secara terang-terangan. Dengan bukti kutipan berikut.

…Mak Asiah memuji saya sebagai anak yang berbudi…

c. Setting tempat banyak perubahan. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

Tiada lama saya di Medan, saya menuju ke Singapura, mengembara ke Bangkok, berlayar terus memasuki tanah-tanah Hindustan, dan dari Karachi berlayar menuju Basrah, masuk ke Irak, melalui Sahara Nejd dan akhirnya sampailah saya ke Tanah Suci ini.

 

2. Gaya bahasa

Gaya bahasa yang banyak dituangkan pengarang dalam memperkuat cerita novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) adalah sebagai berikut.

a. Gaya bahasa asosiasi

1) …Merapi dengan kepundannya yang laksana disepuhi emas…

2) …setelah melayap laksana satu bayangan, ia pun hilang dan tidak akan kembali lagi…

3) Bertahun tahun kami hidup laksana beradik berkakak…

4) …laksana seorang pendeta pertapa yang benci akan dunia leta ini.

5) Surat itu saya pandang laksana sehelai azimat untuk penawar hatiku…

6) Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci..

7) Saya hidup laksana seorang buangan yang tersisih pada suatu padang belantara yang jauh, laksana seorang bersalah besar yang dibuang ke pulau, tiada manusia menengok, tidak ada kawan yang melihat, ditimpa haus dan dahaga.

8) …laksan seekor burung yang terlepas dari sangkarnya sepeninggalan yang empunya pergi.

9) …laksana lampu yang kehabisan minyak, bercerailah badanya dengan sukmanya.

10) Bukit-bukit yang gundul itu tegak dengan teguhnya laksana pengawal yang menyaksikan dan menjagai orang haji yang berangsur pulang ke kampungnya masing-masing.

11) …air mata anakanda yang selama ini banyak tercurah, tidak bagai air yang tenggelam di pasir…

b. Gaya bahasa hiperbolisme

1) …terlompatlah air mata ibuku karena suka cita…

2) …dan kadang-kadang memberi melarat kepada jiwamu.

3) …saya karam dalam permenungan…

4) …air matanya kelihatan menggelenggang…

5) …saya patahkan hati anaknya yang hanya satu…

6) …saya telah karam di dalam khayal…

7) …dia telah meninggalkan saya dengan gelombang angan-angan…

8) Dan kapalku memecahkan ombak dan gelombang menuju Tanah air yang tercinta.

9) …karam rasanya bumi ini saya pijakan…

c. Gaya bahasa antithese

1) …kita akan bertemu dengan yang tinggi dan yang rendah, kita akan bertemu dengan kekayaan dan kemiskinan, kesukaan dan kedukaan, tertawa dan ratap tangis.

2) …di antara kaya dan miskin, mulia dan papa…

3) …tidak memperbeda-bedakan di antara raja-raja dengan orang minta-minta, tidak menyisihkan orang kaya denganorang miskin, orang hina dengan orang mulia…

d. Gaya bahasa personifikasi

1) …tiba-tiba datang ombak yang agak besar, dihapuskannya unggunan yang kami dirikan itu…

2) …dicelah-celah ombak yang memecah ke atas pasir…

3) …memperhatikan pergulatan ombak dan gelombang…

e. Gaya bahasa repetisi

1) Masa itu sedang rimbun, bunga sedang kembang dan buah sedang lebat…

2) …Engkau tentu memikirkan juga, bahwa emas tak setara dengan loyang, sutra tak sebangsa dengan benang.

f. Gaya bahasa klimaks

1) Senantiasa saya hitung pertukaran hari ke bulan dan dari bulan ke tahun…

2) …mereka itu mendakwakan bersaudara, berkarib, berfamili.

g. Gaya bahasa euphimisme

1) …bersama dengan kepergian nyawanya ke dalam alam suci…

2) Ia telah memnggil orang yang dicintai-Nya kehadirat-Nya.

h. Gaya bahasa metaphora

1) …singgalang yang senantiasa diliputi kabut…

i. Gaya bahasa pleonasme

1) …badannya kurus lampai…

 

 

 

I. Titik Pengisahan

Dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) titik pengisahan yang dipergunakan oleh pengarang (HAMKA) adalah sebagai tokoh yaitu dengan cara titik pengisahan tokoh bawahan. Dia ber ‘Aku’ dan menceritakan tokoh lain, yaitu tokoh utama yang pasti selalu selalu selalu diketahuinya. Fokus cerita ada pada tokoh utama. Dalam hal ini tokoh ‘Aku tidak bisa menjelaskan perasaan tokoh utama. Ia hanya menjelaskan tindakannya saja. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

Kedatangan sahabat baru itu mengubah keadaan dan sifat-sifat Hamid. Entah kabar apa agaknya yang baru dibawa Saleh dari kampung yang mengganggu ketentraman pikiran Hamid. Ia bertambah sungguh membaca kitab-kitab, terutama tasawuf karangan Imam Gazali. Kadang-kadang kelihatan ia bermenung seorang diri di atas sutuh rumah tempatnya tinggal, melihat tenang-tenang kepada “galah” (benteng-benteng) tua di atas puncak Jabal Hindi. Saya seakan-akan tiada dipedulikannya lagi. Satu kali terlihat oleh saya, ketika saya mengerjakan tawaf keliling ka’bah, ia bergantung pada kiswah, menengadah mukanya ke langit, air matanya titik amat derasnya membasahi serban yang memalut badannya, kedengaran pula ia berdoa, “Ya Allah! Kuatkanlah hati hamba-Mu ini!”

 

J. Amanat

1. Amanat umum

Amanat umum yang dapat diambil dari novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) adalah sebagai berikut.

a) Dalam menghadapi suatu masalah harus lebih bijak dan memahami perasaan orang lain, serta harus bersabar dan dapat menerima kenyataan walau menyakitkan.

Hal tersebut digambarkan dalam cerita, ketika Hamid menghadap masalah yang bertubi-tubi. Yaitu ketika Hamid kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya dan berpengaruh padanya, saat itu pula ditambah lagi dengan satu perintah yang sangat bertilak belakang dengan keinginannya, yakni perintah dari Mak Asiah untuk melunakan hati Zainab agar ia dapat ditunangkan dengan saudaranya. Dalam keadaan seperti itu, begitu bijaknya Hamid. Ia telah mengorbankan perasaannya demi wanita tua yaitu Mak Asiah. Ia menjunjung tinggi kepercayaan yang telah diberikan Mak Asiah kepadanya. Walaupun batinnya menjerit. Demi menghapus dukanya ia meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan seseorang yang sangat ia cintai.

b) Perjalanan lurus dalam memupuk cinta dan mempertahankan cinta.

Dalam cerita tergambar kisah kasih Islami. Menundukan pandangan pada seseorang yang bukan muhrim merupakan sesuatu yang diharuskan, untuk menjaga kesucian hati dan kesucian diri.

2. Amanat khusus

Amanat khusus yang tersebar dalam novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) adalah sebagai berikut.

a) Kita harus memupuk dan mempertahankan cinta dengan jalan lurus, artinya harus dengan jalan ridho Ilahi. Terbukti dengan kutipan sebagai berikut.

Engkau telah mengambil jalan yang lurus dan jujur di dalam memupuk dan mempertahankan cinta.

b) Jangan menumbuhkan perasaan jika akhirnya akan membawa duka. Dengan bukti kutipan sebagai berikut.

“Anakku…sekarang cintamu masih bersifat angan-angan, cinta itu kadang-kadang hanya menurutkan perintah hati, bukan menurut pendapat otak. Dia belum berbahaya sebelum mendalam. Kalau dia telah mendalam, kerap kali – kalau yang kena cinta pandai – ia merusakan kemauan dan kekerasan hati laki-laki. Kalau engkau perturutkan tentu engkau menjadi seorang anak yang putus asa, apalagi kalau cinta itu bertolak,, terpaksa ditolak oleh keadaan yang ada disekelilingnya “Hapuskanlah perasaan itu dari hatimu, jangan ditimbul-timbulkan jua. Engkau tentu memikirkan juga bahwa, bahwa emas tak setara dengan loyang, sutra tak sebangsa dengan benang.”

c) Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Dengan bukti kutipan berikut.

“Belajarlah sungguh-sungguh, Hamid, mudah-mudahan engkau lekas pintar dalam perkara agama dan dapat hendaknya saya menolong engkau sampai tamat pelajaranmu…”

SIMPULAN

Berdasarkan analisis pada novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) tema-nya yaitu cinta terhalang kelas sosial dan kasih tak sampai.

Susunan alur/plotnya yaitu yang pertama pengarang melukiskan keadaan digambarkan pada awal cerita saat pengarang menunaikan ibadah haji pada tahun 1927. Yang kedua peristiwa yang bersangkut paut mulai bergerak, digambarkan ketika Hamid mencintai Zainab. Yang ketiga peristiwa mulai memuncak, digambarkan ketika Hamid mengalami beberapa musibah yaitu kematian Haji Ja’far dan ibunya. Yang keempat peristiwa mencapai klimaks, digambarkan ketika Hamid diperintah oleh Mak Asiah untuk melunakan hati Zainab agar mau ditunangkan degan saudaranya, setelah itu Hamid meninggalkan kampung halamannya. Yang kelima pengarang memberikan pemecahan dari semua peristiwa dengan menggambarkan cinta keduaya terbongkar, tapi setelah keduanya mengetahui perasaa masing-masing cinta mereka terpisah oleh kematian. Ketegangannya terletak pada apakah Hamid dan Zaiab akan sampai menikah? Jawabannya adalah keduanya tidak sampai pelaminan tapi sampai di atas nisan.

Tokoh yang mendukung cerita pada novel ini yaitu diantaranya Hamid. Ia sebagai tokoh utama dengan watak roud character dan digambarkan dengan watak campuran. Yang kedua tokoh Zainab, ia memiliki watak roud character dan digambarkan dengan cara campuran. Yang ketiga Haji Ja’far memiliki watak flat character dan digambarkan dengan cara campuran. Yang keempat Mak Asiah memiliki watak flat character dan digambarkan dengan cara campuran. Yang kelima tokoh ibu memiliki watak roud character dan digambarkan dengan cara campuran. Yang keenam tokoh Saleh memiliki watak roud character dan digambarkan dengan cara campuran. Yang ketujuh tokoh Rosna memiliki watak flat character dan digambarkan wataknya dengan cara campuran. Yang kedelapan tokoh Aku (pengarang) memiliki watak flat character dan wataknya digambarkan dengan cara campuran.

Latar tempatnya yaitu di Mekah, Puncak Gunung Padang, Halaman Rumah, Kota Padang, Rumah, Padang Panjang, Pesisir Arau, Pemakaman Ma’la, dan Medan. Latar waktu yaitu tahun1927, bulan Ramadan, bulan Syawal, bulan Zulhijjah, pagi, malam sore, hari Minggu. Latar lingkungan sosial diantaranya lingkungan sosial keagamaan dan lingkungan sosial penghasilan rendah. Latar suasana diantaranya suasana sedih dan suasana bahagia.

Gaya pengarang dalam mengungkapkan seluruh cerita yaitu dengan cara deskripsi dan narasi. Gaya bahasa yang digunakan diantaranya asoaiasi, antithese, pleonasme, repetisi, klimaks, hiperbolisme, personifikasi, metaphora, euphimisme. Titik pengisahan yang digunakan oleh pengarang (HAMKA) adalah sebagai tokoh yaitu dengan cara titik pengisahan tokoh bawahan. Sementara amanat keseluruhanya yaitu dalam menghadapi suatu harus lebih bijak dan memahami perasaan orang lain, serta harus bersabar dan dapat menerima kenyataan walau menyakitkan.

 

 

Sumber: dewiratnaningsih.wordpress.com

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s