Tiga Teori yang Melandasi Pendidikan

A. Teori Asosiasi Stimulus- Respon
Watson (1930) diakui sebagai pendiri behaviorisme, peletak dasar filsafat bagai teori Stimulus-Respon. Keyakinan aliran behaviorisme tentang kemapuhan stimulus yang terorganisasi, terungkap dari pernyataan Watson sebagai berikut : “ Berikan pada saya selusin anak bayi yang sehat dan normal fisiknya, dan dunia keahlian saya mengembangkan mereka dan saya akan menjamin untuk mengambil setiap mereka secara acak dan melatihnya untuk menjadi berbagai tipe ahli yang saya inginkan.” Pernyataan tersebut menunjukkan betapa optimis para penganut behaviorisme, bahwa seseorang bisa dibentuk jadi apa saja asal rangsang untuk membentuk mereka benar—benar terprogram dengan baik.
Prinsip di atas akan lebih jelas apabila kita pahami prinsip dasar dari teori itu sendiri yang terdiri dari elemen Stimulus – Respon (S-R). Model tersebut menunjukkan bahwa stimulus berkaitan langsung dengan respon tertentu. Pernyataan ini menggambarkan bahwa pertautan (koneksi) antar stimulus dan respon akan terjadi secara otomatis. Kebanyakan perilaku bawaan atau perilaku yang tak dipelajri cenderung mendukung kecenderungan tersebut. Sebagai contoh , pupil mata kit akan bereaksi secara otomatis terhadap cahaya yang kuat.
Masalahnya ialah apakah seornag mengaitkna stimulus dan respon, sehingga asosiasi antara kedua elemen tersebut terjalin menjadi satu hubungan sebaba-akibat, di mana stimulus tertentu akan diiikuti oleh respon tertentu secar otomatis. Hal ini sejalan dengan tujuan akhir belajar ketrampilan motorik ialah kemampuan untuk memperagakan ketrampilan secara otomatis. Atas dasar asumsi ini, belajar ketrampilan gerak dipahami sebagai pembentukan koneksi antara stimulus dan respon motorik. Berkaitan dengan proses pembentukan koneksi tersebut para psikolog kemudian memahami, pembentukan pertautan antara stimulus respon tak berlangsung secara otomati, tetapi merupakan hasil dari pemikiran sang pelajar.

B. Teori Koneksionis Thorndike
Edward Thorndike (1874-1949) mengembangkan teori-teori dan prinsip-prinsip sebagai pendekatan ilmiah dalam pemecahan masalah pendidikan. Sebagian besar teorinya dikembangkan berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penelitian terhadap perilaku belajar hewan yang lebih rendah dan tingkatannya dan gejala belajar “mencoba dan salah” (trial and error) pada manusia.
Asumsi dasar tentang belajar yang dikembangkan oleh Trondike pada permulaan tulisannya ialah asosiasi antara kesan yang diperoleh dari alat indra dan impuls untuk berbuat (respon). Asosiasi keduanya dikenal sebagai “bond” atau “koneksi” sehingga teorinya disebut koneksionisme atau bond psycology.
Setelah melakukan penelitian Thorndike percaya bahwa penguasaan pengetahuan atau ketrampilan memerlukan pengembangan pertautan antara stimulus dan respon yang serasi. Hasil dari penemuan Thorndike disintesis sehingga disusun sejumlah prinsip belajar “trial dan error”. Diantara prinsip tersebut dipaparkan oleh Oxedine (1986,1984) sebagai berikut :
1. Pada awal belajar, sedikit sekali keberhasilan yang diperoleh di antara berbagai macam kegiatan.
2. Sukses pertama itu agaknya lebih bersifat kebetulan dan masih belum nampak asosiasi antara stimulus dan respon yang diharapkan.
3. Respon yang salah dan aktivitas yang tak bermanfaat lambat laun semakin berkurang.
4. Si pelajar semakin sadar akan koneksi antara stimulus dan respon, dan kemudian dia memperoleh pengertian atau “feeling”tentang tindakan ang tepat.
5. Latihan memperkuat respon yang tepat dan tindakan atau gerakan menjadi semakin efisien.
Thorndike menekankan tiga spek penting dari belajar. Istilah aslinya ialah readiness, exercise dan effect. Sehingga dikenal Law of Readiness, Law of Exercis dan Low of Effect.
1. Law of Readiness
Hukum ini menyatakan bahwa belajar akan berlangsung paling efektif jika siswa yang bersangkutan telah siap unutk memberikan respon (Oxidene, 1968, 1984).
Dengan kata lain hukum kesiapan Thorndike itu adalah semacam hukum tentang kesiapan untuk menyesuaikan diri dengan stimulus (Hilgrad dan Bower,1997)
2. Low of Exercise
Hukum ini menyatakan bahwa dengan mengulang-ulang respon tertentu sampai beberapa kali akan memperkuat koneksi antara stimulus dan respon. Pertautan yang erat itu akan dikembangkan dan diperkuat melalui pengulangan yang memadai jumlahnya. Dengan kata lain, koneksi tersebut tadi akan menjadi lemah atau lupa kan terjadi jika latihan tidak diteruskan. Karena itu istilah penguatan di sini berarti peningkatan probabilitas bahwa respons tertentu akan diberikan jika situasi yang sama terjadi kembali. Secara singkat dapat dikatakan Low of Exercise adalah bahwa kegiatan berlatih akan membuat hasil belajar makin dikuasai atau makin sempurna.
3. Low of Effect
Hukum “effect “ dianggap sebagai hukum yang paling penting. Hukum effect ini diartikan sebagai berikut penguatan atau melemahnya suatu koneksi merupakan hasil dari konsekuensinya.(Hilgard & Bower.1977).
Menurut hukum effect, koneksi antara elemen Stimulus-Respon(S-R) akan diperkuat jika dialami pengalaman yang menyengkan.
Thorndike juga mengatakan, jika suatu respon diikuti oleh pengalaman yang tidak menyenagkan atau tak memuaskan, konsekuensinya antara S-R menjadi lemah. Namun demikian pada tahap selanjutnya Thorndike menata kembali hukum effect tersebut dengan menjelaskan bahwa amat sering suatu pengalaman yang tidak menyenangkan akan selalu teringat.Contonya jika kita amati kenyataan dalam olahraga, pengalaman pahit seperti kehilangan peluang untuk memenangkan suatu pertandingan penting karena kesalahan kecil dalam manuver taktik akan dikenang terus oleh pemain. Untuk selanjutnya, pemain yang bersabngkutan tak akan melakukan manuver taktik semacam itu.

C. Teori Tabularasa/Behaviorisme (John Locke dan Francis Bacon)
Teori ini mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi (a sheet ot white paper avoid of all characters). Jadi, sejak lahir anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa. Anak dapat dibentuk sekehendak pendidiknya. Di sini kekuatan ada pada pendidik. Pendidikan dan lingkungan berkuasa atas pembentukan anak.
Pendapat John Locke seperti di atas dapat disebut juga empirisme, yaitu suatu aliran atau paham yang berpendapat bahwa segala kecakapan dan pengetahuan manusia itu timbul dari pengalaman (empiri) yang masuk melalui alat indera. Behaviorisme tidak mengakui adanya pembawaan dan keturunan, atau sifat-sifat yang turun-temurun. Semua Pendidikan, menurut behaviorisme, adalah pembentukan kebiasaan, yaitu menurut kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di dalam lingkungan seorang anak.

Sumber: http://sejuk-pagi.blogspot.com/2009_04_01_archive.html

http://muhammad-win-afgani.blogspot.com/2010/01/tiga-teori-yang-melandasi-pendidikan.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s